SuaraJawaTengah.id - Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman Prof Totok Agung Dwi Haryanto mengatakan Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober merupakan momentum untuk membangun ketahanan pangan secara berkelanjutan.
"Hemat saya, Hari Pangan Sedunia itu harus dimaknai sebagai bentuk penghargaan, kepedulian, dan revitalisasi perhatian negara seluruh dunia terhadap arti penting pangan, arti penting produsen pangan," kata Totok dikutip dari ANTARA di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis (6/10/2022).
Selain itu, kata dia, isu dunia sejak zaman dulu sampai 100 tahun ke depan sebenarnya hanya ada dua, yaitu pangan dan energi.
Oleh karena itu, momentum Hari Pangan Sedunia semestinya juga untuk menyadarkan kembali kepada semua pihak bahwa petani merupakan aktor yang paling berkontribusi dalam penyediaan pangan bagi seluruh umat di dunia.
"Kalau petani sebagai aktor paling depan dalam menyiapkan pangan sampai tidak sejahtera, hal itu sebetulnya tanggung jawab semua pihak khususnya negara," ujarnya.
Prof Totok pun mengutip pernyataan Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda asal Inggris yang berkuasa di Indonesia pada tahun 1811-1816.
Menurut dia, Raffles mengaku kagum terhadap kesuburan Indonesia, sehingga apabila pengelolanya mampu memanfaatkan kesuburan tersebut, akan menjadikan negeri itu yang paling makmur di seluruh dunia.
"Nah, Indonesia juga dikenal sebagai negara megabiodiversitas nomor satu di dunia, maka potensi yang dimiliki itu, baik yang dinyatakan oleh Raffles maupun secara fakta kita memang memiliki sumber daya yang luar biasa, itu hendaknya bisa betul-betul untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat," kata Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed itu.
Oleh karena itu jika pemerintah ingin menggali kembali spirit dan komitmen melalui Hari Pangan Sedunia, kata dia, program-program yang dibuat pemerintah hendaknya lebih kuat lagi dan pro kepada petani.
Baca Juga: Pupuk Subsidi Sulit Diakses Masyarakat, Mentan SYL: Tidak Dikurangi tapi Dipertajam Sesuai Prioritas
Apabila petani-petani itu bisa dibuatkan kegiatan atau program yang mampu menyejahterakan petani, otomatis mereka akan bekerja sesuai kompetensinya menghasilkan pangan untuk seluruh negeri itu dengan bahagia dan penuh semangat.
Ketika petani bekerja dengan bahagia, secara otomatis produksi, produktivitas, dan mutu dari pangan yang dihasilkan akan menjadi lebih baik karena petani sudah yakin bahwa apa yang akan mereka panen itu akan dihargai dengan baik oleh negara maupun rakyat.
"Sebaliknya kalau kita tidak terlalu peduli dengan kesejahteraan petani, petani itu melakukan pekerjaannya karena tidak punya pilihan, kemudian mereka tidak bisa bekerja maksimal dan akibatnya juga nanti produksi, produktivitas, dan mutu dari tanaman yang ditanam untuk penyiapan pangan itu tidak maksimal," katanya.
Lebih lanjut, pemulia tanaman padi itu mengatakan beberapa program yang lebih pro kepada petani di antaranya bagaimana komitmen reforma agraria dan penyediaan sarana produksi sesuai kebutuhan pada waktu yang dibutuhkan oleh petani dan bisa diakses sesuai kemampuan mereka.
Selain itu, bagaimana menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran petani bahwa panen mereka nantinya tidak bisa terjual dengan harga layak, kemudian kebijakan subsidi lebih tepat sasaran, serta revitalisasi kelembagaan petani maupun penyuluh pertanian lebih dioptimalkan.
Terkait dengan upaya membangun ketahanan pangan secara berkelanjutan, ia mengatakan hal itu harus tetap dilakukan dengan memerhatikan kelestarian lingkungan hidup.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya
-
Kembangkan Potensi Alam, Potret Desa Karangjengkol Purbalingga Raih Indonesia Awards 2026
-
Sempat Dihalangi Dampingi Puluhan Massa Aksi di Polda DIY, 34 Orang Akhirnya Dipulangkan