Candi Pendem kata Jumat merupakan candi pertimah atau candi bumi. Masyarakat kuno lereng Merapi punya kebiasaan menggelar ritual khusus di candi pertimah, sebelum mulai menanam padi di sawah.
Setelah masa tanam sambil menunggu panen, masyarakat memasuki masa istirahat atau mengaso. Biasanya pada masa ini mereka akan menggelar ritual di Candi Asu.
Menurut Jumat, penjelasan ini meluruskan salah kaprah penamaan Candi Asu yang seharusnya dieja ‘aso’ karena diambil dari kata mengaso.
“Candi Lumbung fungsinya untuk wiwitan panen. Biasanya warga mengambil sedikit hasil panen lalu disimpan di Candi Lumbung. Tujuannya sebagai rasa sukur kepada Tuhan.”
Siklus tanam padi dari menyiapkan lahan, masa istrirahat, hingga menjelang panen, terwakili oleh fungsi masing-masing candi di Kompleks Sengi. Pengetahuan mengolah lahan ini menunjukkan bahwa peradaban masyarakat kuno di lereng Merapi sudah maju.
"Relief Candi Lumbung maknanya ke ilmu pengetahuan. Ada relief ghana, burung yang melambangkan Kinara-Kinari atau dewa dan dewi di kahayangan. Juga daun sulur yang menggambarkan orang mencari ilmu tidak ada batasnya."
Sisa-sisa Peradaban Maju
Tidak berlebihan menyimpulkan kawasan Desa Sengi pernah ditinggali oleh masyarakat berperadaban maju. Kepala Dusun Candipos, Wawan Herman Sulistyo, bahkan menyebut wilayah ini pernah menjadi pusat kerajaan Kalisingan.
Pendapat Wawan salah satunya didasarkan pada penamaan sungai Tringsing yang mengalir tak jauh dari Candi Lumbung. Diperkirakan letusan Merapi tahun 1080 mengubur kerajaan Kalisingan.
Bukti lain bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat permukiman adalah ditemukannya banyak batuan candi. Batu-batu itu biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat warga menggali tanah.
"Dulu ada peradaban disini. Itu juga kenapa ada 3 candi. Sebenarnya kalau digali lagi, lebih banyak candi di kawasan ini. Banyak yang tanahnya sudah jadi permukiman penduduk. Sehingga ditempati rumah dan sebagainya."
Perlu diteliti lebih jauh apakah kerajaan Kalisingan yang dimaksud Wawan beririsan sejarah dengan wilayah Salingsingan yang disebut-sebut dalam Prasasti Salingsingan, Sri Manggala II, serta Kurambitan I dan Kurambitan II.
Semua prasasti menyebut tentang dharmma atau pemberian kehormatan kepada tokoh penting di Salingsingan. Kompleks Candi Sengi dibangun oleh penguasa Mataram Kuno, Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala sebagai dharmma kepada Bhatara di Salingsingan.
Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala adalah penguasa ke-8 Kerajaan Mataram Kuno yang berkuasa antara tahun 855 hingga 885 Masehi. Prasasti Salingsingan sendiri berangka tahun 880 Masehi.
Memulangkan Candi Lumbung ke Kompleks Candi Sengi juga berarti mengembalikan ruh candi sebagai pusat spiritualitas. Selama berada di Tlatar, Candi Lumbung dianggap kehilangan aura sakral.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama