Pada usia yang masih sangat muda, Ki Hajar Dewantara sudah memiliki visi yang kuat tentang pentingnya pendidikan. Ia bermimpi untuk membuka pintu-pintu pendidikan bagi semua orang, terutama bagi anak-anak yang kurang beruntung.
Mimpi inilah yang kemudian menjadi pendorongnya untuk terus belajar dan berkembang sebagai seorang pendidik.
Peran Ayah dan Semangat Kebebasan
Meskipun ayah Ki Hajar Dewantara adalah seorang bangsawan dengan pandangan yang konservatif, ayahnya memberikan dukungan dan kebebasan kepada anaknya untuk mengejar impian.
Baca Juga: Hardiknas 2023 dan Cita-cita Ki Hajar Dewantara yang Masih Terus Terbengkalai
Ayahnya sangat menghargai semangat belajar yang dimiliki Ki Hajar Dewantara dan membiarkannya mengejar pendidikan sesuai dengan minat dan bakatnya.
Ayah Ki Hajar Dewantara juga menjadi contoh tentang pentingnya kemandirian. Selain itu, Ki Hajar Dewantara juga banyak belajar tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Semangat dan nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah menjadi landasan kuat untuk hidupnya.
Pemberontakan Melawan Kolonialisme
Ki Hajar Dewantara tumbuh dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh kolonialisme Belanda. Pada masa itu, pendidikan di bawah pemerintahan kolonial sangat terbatas dan lebih bersifat kontrol sosial daripada memberdayakan individu.
Ki Hajar Dewantara, yang sudah memiliki semangat pendidikan yang besar sejak kecil, merasa perlu ntuk memberontak melawan sistem pendidikan yang ada. Pada masa mudanya, Ki Hajar Dewantara bergabung dalam pergerakan nasionalis Indonesia melawan Belanda.
Baca Juga: Sejarah Asal Usul Peringatan Hari Pendidikan Diperingati Setiap Tanggal 2 Mei
Ia kemudian menghabiskan masa mudanya dengan bergabung dalam organisasi-organisasi politik serta mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semangatnya mengubah pendidikan kolonial menjadi lebih inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan individu.
Berita Terkait
-
Generasi Unggul: Warisan Ki Hajar Dewantara, Mimpi Indonesia Emas 2045?
-
Jalan Terjal Politik Ki Hajar Dewantara: Radikal Tanpa Meninggalkan Akal
-
Dari Ruang Kelas ke Panggung Politik: Peran Taman Siswa dalam Membentuk Identitas Bangsa
-
Menelisik Sosok Ki Hajar Dewantara, Pendidikan sebagai Senjata Perlawanan
-
Taman Siswa: Jejak Perjuangan yang Tak Pernah Padam
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
Terkini
-
Habbie, UMKM Minyak Telon Binaan BRI Tampil dengan Prestasi Keren di UMKM EXPO(RT) 2025
-
Operasi Ketupat Candi 2025: Kapolda Jateng Kawal Kenyamanan Pemudik di Jalur Solo-Jogja
-
Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan, BRI Raih 2 Penghargaan Internasional
-
Pemudik Lokal Dominasi Arus Mudik di Tol Jateng, H+1 Lebaran Masih Ramai
-
Koneksi Tanpa Batas: Peran Vital Jaringan Telekomunikasi di Momen Lebaran 2025