SuaraJawaTengah.id - Selama kurang lebih tujuh tahun hidup di Semarang. Saya tau persis perkembangan ibu kota Jawa Tengah tersebut dari segi fisik maupun kebiasaan orang-orang di dalamnya.
Jika dibandingkan dengan kota lainnya seperti Jakarta. Semarang jelas kalah jauh soal transportasi dan intrastruktur untuk menyokong orang-orang giat berjalan kaki. Warga Semarang sangat bergantung dengan kendaraan pribadi.
Secara geografis Kota Semarang terbagi menjadi dua wilayah yakni Semarang atas dan bawah. Sehingga saya jamin kota ini begitu merepotkan bagi orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Salah satu sumber utama yang mungkin sering dikeluhkan pejalan kaki minimnya transportasi umum yang mudah di akses. Saya benar-benar iri dengan layanan transportasi umum di Jakarta seperti TransJakarta, JakLingko, KRL, MRT, dan lain-lainnya yang saling terhubung menjangkau sisi Jakarta.
Sedangkan di Kota Lunpia, transportasi publik yang jadi andalan hanya Trans Semarang atau sering dipanggil dengan BRT. Itu masih ada kekurangannya. Jumlah armada dan rute yang terbatas bikin orang-orang yang tidak punya kendaraan pribadi kesulitan mencapai tujuan mereka dengan mudah.
Minimnya transportasi umum itu diamini oleh Safira Fitri. Perempuan yang bekerja di bidang industri kreatif ini hampir setiap pagi berdesak-desakkan dengan siswa sekolah bahkan ia harus menunggu lebih lama lantaran bus BRT yang jadi andalan sering overload.
Tak hanya itu, Safira juga harus berjalan kaki ratusan meter lantaran bus BRT yang ditumpangi tidak mengjangkau kantor tempat dia bekerja. Di matanya Kota Semarang belum memperhatikan akses pejalan kaki yang layak bagi pekerja yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
"Di beberapa pusat kota mungkin kurang ya. Hanya di Pecinan, Kota Lama, Muggasari yang friendly untuk pejalan kaki," ucap perempuan asal Blora tersebut.
Menurut Safira, sebagai ibu kota Jawa Tengah. Semarang harusnya lebih banyak menambah transportasi umum dan memperbaiki infrastruktur lainnya seperti trotoar.
Baca Juga: Ambil Formulir Pilkada Semarang di PDIP, Ade Bhakti Incar Kursi Wakil Wali Kota
"Seharusnya Semarang bisa jadi cerminan untuk daerah-daerah di Jawa Tengah yang ramah terhadap pejalan kaki," imbuhnya.
Dimanjakan Kendaraan Pribadi
Founder Komunitas Peduli Transportasi Kota Semarang (KPTS), Theresia Tarigan, mengatakan meski sudah menjadi kota metropolitan. Kota Semarang memang belum ramah terhadap pejalan kaki. Malah ada beberapa daerah yang belum di bangun trotoar jalan.
"Jalan Banyumanik, Jalan Karangrejo, Jalan Sukun, Jalan Cemara dan lain-lainnya tidak ada trotoar," ujar perempuan yang akrab disapa There tersebut.
There lantas menjelaskan alasan warga Semarang tidak suka jalan kaki. Salah satunya kebijakkan pemerintah yang mempermudah masyarakat membeli kendaraan motor atau mobil. Lalu tidak ada larangan tegas siswa-siswi sekolah membawa kendaraan walaupun belum mempunyai SIM.
Jika dua permasalah diatas belum bisa dibereskan oleh pemerintah. Maka warga Kota Semarang selamanya akan sulit mengubah kebiasaan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Kudus Darurat Longsor! Longsor Terjang 4 Desa, Akses Jalan Putus hingga Mobil Terperosok
-
5 Lapangan Padel Hits di Semarang Raya untuk Olahraga Akhir Pekan
-
Perbandingan Suzuki Ertiga dan Nissan Grand Livina: Duel Low MPV Keluarga 100 Jutaan
-
Fakta-fakta Kisah Tragis Pernikahan Dini di Pati: Remaja Bercerai Setelah 6 Bulan Menikah
-
Miris! Sopir Truk Kawasan Industri Terboyo Keluhkan Iuran Pemeliharaan Tapi Jalannya Banyak Rompal