Dari 400 kepala keluarga (KK) di kampung itu, saat ini yang bertahan hanya 110 KK. Warga yang masih di sana memodifikasi tempat tinggalnya menjadi rumah panggung. Imbasnya, bangunan menjadi lebih pendek.
Rute terdekat menuju kampung ini adalah melalui tanggul padas sepanjang 1 km yang menghubungkan Dukuh Dempet-Timbulsloko.
Jalur itu hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, tetapi kondisinya memprihatinkan. Sebagian jalan tingginya hampir sejajar dengan air laut sehingga seringkali tak bisa dilewati jika rob meninggi.
Warga akhirnya menggunakan mode transportasi perahu nelayan dengan biaya yang lebih mahal.
Kami Masih Warga Indonesia
Tokoh Masyarakat Timbulsloko Shobirin mengatakan upacara di atas rob yang digelar tiap 17 Agustus sudah berlangsung sejak 6 tahun terakhir. Dirinya adalah orang yang menginisiasi acara itu. Menurutnya, rasa nasionalisme harus tetap dipertahankan meski dalam kondisi bencana.
"Kami masih warga negara Indonesia sehingga tetap memperingati HUT RI meski dalam kondisi kampung yang tenggelam," tuturnya.
Shobirin bercerita rob masuk perkampungannya sejak tahun 2000-an. Awalnya, hanya tambak dan sawah yang terdampak. Namun, pada tahun ke-9, rob masuk permukiman. Kondisi makin parah dalam 15 tahun terkhir karena proyek reklamsi di pesisir Semarang.
Pada 2018, seluruh daratan di kampung tersebut telah tertutup oleh air laut. Kondisi tersebut membuat wilayah it seperti kampung mati karena akses jalan antar-rumah terputus.
Baca Juga: Waspada! Jawa Tengah Berpotensi Dilanda Angin Kencang, Ini Penjelasan BMKG
"Seperti kampung mati, jemaah salat tidak ada, undangan tahlilan tidak ada yang hadir. Karena memang warga sulit keluar rumah dan beresiko," ujarnya.
Pada 2019, dirinya mengawali untuk membuat jembatan atau jalan gladak dari kayu untuk menghubungan akses antar-rumah warga. Dengan upaya tersebut, aktivitas kampung kembali hidup.
"Dananya dari iuran warga. Kalau ada warga kami yang hidup di perantauan, itu kami tariki untuk pembangunan jalan," imbuhnya.
Minim Perhatian Pemerintah
Shobirin berharap pemerintah lebih memperhatian nasib warga pesisir Demak yang terdampak abrasi. Menurutnya, bantuan yang ada tidak sebanding dengan parahnya bencana di sana.
Dia menyampaikan Pemkab Demak menjanjikan sejumlah kucuran bantuan. Diantaranya bantuan perbaikan jalan gladak sebesar Rp 250 juta, bantuan peninggian tanggul padas sebesar Rp 1 miliar, dan bantuan peningian makam Rp 100 juta.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Sukses Berdayakan Ratusan Perempuan Lewat Program Bumi Kartini, Semen Gresik Sabet Penghargaan ESDM
-
Buru Lokasi BTS Lewat Aplikasi Peta di Wisata Guci Tegal, Komplotan Pencuri Kabel Optik Dibekuk
-
Polres Tegal Ungkap Jaringan Obat Keras Ilegal, 58 Ribu Butir Hexymer hingga Tramadol Disita
-
Hampir 9 Tahun Jadi Agen BRILink, Anik Selamatkan Nasabah dari Penipuan
-
Jelang Nataru, Gubernur Jateng Minta Polisi dan Jaksa Awasi Permainan Harga Pangan