SuaraJawaTengah.id - Pengembangan desa wisata di Jawa Tengah tidak bisa hanya mengandalkan bantuan dana semata. Hal itu bisa membangun ekonomi desa dan menjadi desa mandiri.
Namun demikian, diperlukan pendampingan yang berkelanjutan dan strategis agar program ini benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa-desa.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, menegaskan bahwa program pengembangan desa wisata memerlukan pendekatan yang menyeluruh, bukan sekadar memberikan bantuan finansial.
Menurutnya Sarif, pendampingan yang tepat akan membantu desa wisata berkembang secara berkelanjutan, sehingga tidak hanya bersifat sesaat.
“Kalau hanya bantuan dana, mungkin akan cepat selesai dan hilang. Tapi apa sih yang kurang? Misal SDM-nya, promosinya, sehingga lebih pada sisi pendampingan,” ujar Sarif, pada Senin 9 Juni 2025.
Hingga saat ini, tercatat ada 886 desa wisata yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 681 desa masih dalam kategori rintisan, 167 desa berkembang, dan hanya 38 desa yang masuk kategori desa wisata maju.
Sementara itu, Jawa Tengah sendiri memiliki total 8.563 desa dan kelurahan, yang artinya masih banyak wilayah yang belum tersentuh pengembangan sektor pariwisata berbasis desa.
Melihat data tersebut, Sarif menilai bahwa potensi besar desa-desa di Jawa Tengah belum tergarap maksimal. Ia mengingatkan bahwa pengembangan desa wisata tidak boleh dilakukan asal-asalan atau sekadar mengikuti tren.
Baca Juga: TPST Desa Penggarit Jadi Inspirasi Solusi Pengelolaan Sampah Tingkat Lokal di Jawa Tengah
“Artinya, masih banyak desa yang belum mengembangkan Desa Wisata. Meski demikian, pengembangannya tidak boleh sekadar asal atau latah, atau asal punya Desa Wisata,” katanya.
Untuk itu, Sarif mendorong pemerintah provinsi dan kabupaten/kota agar menggandeng institusi pendidikan tinggi, seperti kampus atau universitas, untuk melakukan studi kelayakan terhadap potensi yang dimiliki oleh masing-masing desa.
Dengan langkah ini, pengembangan desa wisata bisa dilakukan secara terukur dan berbasis data.
“Sehingga ada rencana yang terukur. Tidak kemudian berhenti, setelah viral misalnya. Tapi harus butuh inovasi dan atraksi berkelanjutan,” jelas Sarif Abdillah.
Tak hanya itu, Sarif juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah daerah dinilai perlu menggandeng sektor swasta, khususnya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), untuk mendukung pembangunan desa wisata dari berbagai aspek.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet
-
Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman
-
Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM
-
Hati-hati! Wakil Ketua DPRD Jateng Peringatkan Bahaya Bullying di Sekolah