SuaraJawaTengah.id - Mitos seputar bulu mata jatuh ternyata masih diyakini banyak orang hingga kini. Meskipun dunia medis menganggapnya sebagai bagian dari proses alami tubuh atau gejala gangguan kesehatan tertentu, dalam tradisi masyarakat Jawa, bulu mata yang rontok dipercaya menyimpan makna tersendiri.
Menurut Primbon Jawa, lokasi jatuhnya bulu mata apakah sebelah kanan atau kiri diyakini mengandung pertanda atau isyarat tertentu.
Dikutip dari kanal Namun Qolbu berikut ini 7 fakta unik dan makna di balik bulu mata jatuh yang perlu kamu tahu.
1. Bulu Mata Jatuh Bukan Sekadar Gangguan Kesehatan
Secara medis, rontoknya bulu mata bisa disebabkan oleh stres, alergi, atau kebiasaan menggosok mata terlalu keras.
Namun, dalam kepercayaan masyarakat tradisional Jawa, fenomena ini sering dikaitkan dengan pesan-pesan tak kasat mata atau pertanda akan datangnya suatu peristiwa dalam hidup seseorang.
Maka dari itu, banyak orang tua zaman dulu yang langsung ‘menafsirkan’ bila bulu mata seseorang jatuh tanpa sebab.
2. Jatuh di Sebelah Kanan? Pertanda Akan Bertemu Orang Spesial
Menurut Primbon Jawa, bulu mata yang jatuh di sebelah kanan diartikan sebagai pertanda bahwa kamu akan segera bertemu dengan seseorang yang spesial.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Tentang Mitos Suara Anak Ayam di Malam Hari
Bisa jadi orang itu adalah sosok dari masa lalu, mantan kekasih, atau seseorang yang sudah lama kamu rindukan diam-diam.
Pertemuan ini juga diyakini bukan sekadar kebetulan, melainkan momen yang memang kamu harapkan sejak lama.
Dalam beberapa kasus, bahkan disebutkan bahwa pertemuan tersebut bisa membuka kembali peluang hubungan asmara yang sempat tertunda.
3. Bulu Mata Jatuh Sebelah Kiri? Bisa Jadi Tanda Ada Keluarga yang Merindukanmu
Jika bulu mata yang jatuh berada di sebelah kiri, maka maknanya berbeda.
Dalam tafsir Primbon, hal ini sering dikaitkan dengan kerinduan dari anggota keluarga. Bisa jadi ibu, ayah, saudara kandung, atau sanak keluarga yang terpisah jarak dan waktu denganmu.
Kerinduan ini tidak selalu dalam konteks fisik, tapi juga bisa berarti rindu akan kenangan masa kecil, canda tawa bersama, atau kehangatan keluarga yang mulai jarang dirasakan.
4. Pertanda Baik yang Perlu Disikapi dengan Bijak
Meskipun terdengar seperti mitos atau klenik, sebagian orang menganggap tanda-tanda ini sebagai pengingat emosional.
Mungkin selama ini kamu memang menyimpan rindu, tapi tak sempat menyapa seseorang. Atau mungkin ada keluarga yang sudah lama tak kamu hubungi.
Daripada hanya mempercayainya secara harfiah, akan lebih baik jika kamu menjadikan momen bulu mata jatuh sebagai refleksi diri, untuk lebih mendekatkan diri dengan orang-orang terdekat.
5. Mitos Populer yang Masih Hidup di Tengah Modernitas
Fenomena bulu mata jatuh sebagai pertanda rindu adalah bagian dari warisan budaya lisan yang tetap lestari. Meski hidup di era digital dan serba rasional, mitos seperti ini justru kembali populer lewat media sosial dan kanal YouTube bertema spiritual atau budaya.
Banyak warganet yang membagikan pengalamannya, merasa “terbukti” setelah mengalami jatuhnya bulu mata dan kemudian benar-benar dihubungi oleh seseorang yang dirindukan.
6. Tidak Harus Diyakini, Tapi Bisa Diambil Hikmahnya
Seperti banyak kepercayaan dalam Primbon Jawa lainnya, tafsir bulu mata jatuh tidak dimaksudkan untuk diyakini mutlak. Bijaklah dalam menyikapi, dan gunakan sebagai momen introspeksi.
Jika memang benar kamu sedang dirindukan seseorang, maka bersyukurlah masih ada yang memikirkanmu. Tapi jika tidak ada kejadian apa-apa, maka anggaplah itu sebagai momen pengingat untuk kembali menyapa dan mempererat tali silaturahmi.
7. Spiritualitas dan Budaya yang Berpadu
Primbon Jawa bukan sekadar buku tafsir masa depan, tapi juga cermin dari cara masyarakat tradisional memahami kehidupan. Tafsir bulu mata jatuh adalah salah satu bentuk bagaimana budaya lokal memadukan emosi manusia (rindu, cinta, perpisahan) dengan tanda-tanda sederhana dari tubuh.
Dalam Islam sendiri, ajaran tentang kasih sayang dan silaturahmi juga sangat dijunjung tinggi. Maka tidak ada salahnya jika tafsir seperti ini dijadikan pemicu untuk berbuat baik, mempererat hubungan, dan merenungkan makna pertemuan serta perpisahan dalam hidup.
Bulu mata jatuh, meski terlihat sepele, ternyata menyimpan banyak makna menurut kepercayaan masyarakat Jawa.
Entah sebagai pertanda akan bertemu orang spesial atau sebagai isyarat rindu dari keluarga, yang terpenting adalah bagaimana kita meresponsnya.
Jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan mempererat rasa kasih sayang dengan orang-orang terdekat.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Listrik Mati Massal Jateng: 894 Ribu Pelanggan Terdampak Badai, 8 Wilayah Sempat Gelap Gulita
-
Mahasiswa Undip Diduga Dikeroyok 30 Teman Satu Jurusan hingga Gegar Otak, Ini Fakta-faktanya
-
Seret Nama Gubernur di Pusaran OTT, Ahmad Luthfi Ungkap Fakta Pertemuan dengan Fadia A Rafiq
-
KPK Bantah Keras Klaim Fadia A Rafiq: Bantahan Gubernur Luthfi dan Fakta Penangkapan di Semarang
-
Semen Gresik Apresiasi Tukang Bangunan, Program Tukang Hebat Berhadiah Utama Tiga Unit Motor Matic