SuaraJawaTengah.id - Rentetan kecelakaan transportasi yang terjadi di darat, laut, hingga perkeretaapian belakangan ini menjadi sorotan tajam.
Pakar Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mendesak Menteri Perhubungan (Menhub) untuk melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terkait alokasi anggaran keselamatan.
Menurut Djoko, publik berhak tahu kondisi sebenarnya dari anggaran vital tersebut. Ia khawatir pemangkasan anggaran demi efisiensi justru mengorbankan nyawa masyarakat.
"Akhir-akhir ini seringnya terjadi kecelakaan transportasi (darat, laut, udara dan perkeretaapian), Menhubnya yang harus evaluasi, apakah anggaran keselamatan masih ada atau ikut dipangkas," ujar Djoko dalam catatannya dikutip dari keterangan tertulis pada Rabu (6/8/2025).
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh insiden terbaliknya Kapal Fastboat Bali Dolphin Cruise 2 di perairan Sanur, Bali pada Selasa (5/8/2025) yang menewaskan dua penumpang.
Sebelumnya, pada awal Agustus, Kereta Api Argo Bromo Anggrek juga anjlok di Subang, Jawa Barat, yang mendorong Kemenhub membentuk tim audit independen untuk evaluasi menyeluruh.
Djoko menekankan, jika benar terjadi pemangkasan, kesalahan tidak bisa serta-merta dilimpahkan kepada Presiden. Menurutnya, Menhub yang paling bertanggung jawab untuk meyakinkan pentingnya anggaran keselamatan.
"Andai dipangkas, bukan salah Presiden, tapi kesalahan pada Menhub yang tidak menginformasikan pentingnya keselamatan transportasi," tegasnya.
Padahal, Kemenhub memiliki struktur organisasi yang lengkap untuk mendukung tugasnya.
Baca Juga: Imbas Kecelakaan Kereta, KAI Alihkan Perjalanan KA Serayu dan Baturraden Ekspress
"Menhub punya para pembantu eselon 1 yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, seperti Dirjen dan Staf Ahli. Belum lagi ditambah Staf Khusus dan Tenaga Ahli," papar Djoko.
Ia menyarankan agar seluruh jajaran tersebut dimanfaatkan untuk memberikan masukan strategis kepada Menhub.
"Mereka bisa diminta masukannya agar anggaran keselamatan di Kemenhub tidak ikut dipangkas demi efisiensi. Lantas, masukan itu disampaikan ke Presiden dan Menteri Keuangan," tambahnya.
Berdasarkan data yang ada, pagu anggaran Kemenhub tahun 2025 memang mengalami efisiensi signifikan.
Pagu efektif terkini menjadi Rp17,725 triliun, setelah ada efisiensi sebesar Rp13,72 triliun dari pagu awal.
Penurunan ini juga berdampak pada program-program spesifik, seperti anggaran untuk angkutan perkotaan skema Buy The Service (BTS) yang turun drastis.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya
-
Kembangkan Potensi Alam, Potret Desa Karangjengkol Purbalingga Raih Indonesia Awards 2026
-
Sempat Dihalangi Dampingi Puluhan Massa Aksi di Polda DIY, 34 Orang Akhirnya Dipulangkan