- Penobatan Mangkubumi sebagai PB XIV menuai kritik dari Timoer Rumbai karena dianggap tidak mengikuti komunikasi keluarga dan tata adat Keraton Surakarta.
- Timoer Rumbai membantah klaim Mangkubumi tidak diajak musyawarah, menyoroti upaya dialog telah dilakukan namun tidak mendapatkan respons positif.
- Upacara penobatan dinilai bertentangan dengan adat karena persiapan logistik dan ritual yang matang menunjukkan acara tersebut tidak dilakukan secara spontan.
3. Upacara penobatan dinilai tidak sesuai tata adat Keraton Surakarta
Timoer juga memberikan perhatian besar terhadap aspek adat dalam penobatan. Menurutnya, apa yang dilakukan Mangkubumi dalam acara Gondrawino tidak mencerminkan tata adat Keraton Surakarta.
Ia menyampaikan bahwa Mangkubumi selama ini dikenal sering mengemukakan pentingnya memegang teguh adat dan menjaga nilai-nilai tradisi. Namun tindakan menobatkan diri dengan cara sebagaimana dilakukan justru bertentangan dengan prinsip yang sering ia suarakan.
Selain itu, Timoer mengingatkan bahwa Mangkubumi sebelumnya menyampaikan pesan penting agar putra-putri PB XIII tidak terpecah.
Namun keputusan menobatkan diri tanpa komunikasi internal justru dianggap menambah ketegangan dan tidak mencerminkan upaya menjaga kebersamaan keluarga.
4. Banyak tanda penobatan sudah dipersiapkan, bukan spontan seperti yang disebutkan
Pada kritik berikutnya, Timoer menyoroti berbagai tanda yang menunjukkan bahwa acara penobatan tersebut bukan sesuatu yang terjadi mendadak.
Ia mencatat bahwa ada pakaian yang sudah disiapkan, padahal acara resmi semacam itu tentu memerlukan perencanaan.
Selain itu, sajèn wilujengan yang digunakan dalam ritual bukanlah sesuatu yang bisa dibuat dalam satu atau dua jam. Termasuk pula perlengkapan ritual lain yang terlihat sudah ditata sebelumnya.
Baca Juga: 9 Babak yang Mengurai Konflik Suksesi Keraton Kasunanan Surakarta Setelah Wafatnya PB XIII
Menurut Timoer, semua ini tidak selaras dengan anggapan bahwa acara di Gondrawino terjadi spontan. Baginya, langkah semacam itu adalah bagian dari proses terencana, sehingga akan lebih bijak jika proses komunikasi dan permusyawaratan dilakukan terlebih dahulu sebelum penobatan dilaksanakan.
5. Tidak ada kesediaan menyelesaikan persoalan secara langsung
Kritik terakhir menyangkut kemauan menyelesaikan masalah secara langsung.
Timoer menyampaikan bahwa dirinya telah berusaha menjalin komunikasi dan mengatur pertemuan keluarga untuk menyatukan langkah dalam situasi pasca wafatnya PB XIII.
Namun menurutnya, upaya tersebut tidak mendapatkan balasan dari Mangkubumi.
Ketidakhadiran respons itu membuatnya menilai bahwa tidak ada komitmen untuk duduk bersama dan membicarakan persoalan secara terbuka.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
Terkini
-
Lampu Kuning Pajak Kudus: Target Rp335 Miliar, Tiga Bulan Pertama Masih 'Ngos-ngosan'
-
Pajak Kendaraan Tanpa KTP di Jateng Apakah Bisa? Begini Caranya
-
Duka Pernikahan di Demak, 7 Fakta Ibu Mempelai Wafat 2 Jam Menjelang Akad
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Dasco Dijadwalkan Hadiri Kongres Advokat Indonesia di Semarang Jumat Pekan Ini