Budi Arista Romadhoni
Senin, 05 Januari 2026 | 08:18 WIB
Ilustrasi banjir Semarang. [pexels/aamir dukanwala]
Baca 10 detik
  • Pemkot Semarang menyiagakan 220 pompa air, termasuk penambahan unit baru di Tawang Mas dan Peterongan.
  • Terjadi pelebaran outlet Kaligawe empat kali lipat menjadi 40 meter serta pendalaman waduk mini di Mijen.
  • Wali Kota menekankan upaya preventif melalui pembenahan akar masalah dan koordinasi lintas sektor dengan warga.

SuaraJawaTengah.id - Pemerintah Kota Semarang menunjukkan keseriusan luar biasa dalam menghadapi potensi banjir di awal tahun 2026. Tidak tanggung-tanggung, setidaknya 220 pompa air, terdiri dari 119 pompa tetap dan 101 pompa portabel, telah disiagakan di seluruh titik rawan banjir.

Penambahan pompa baru di Tawang Mas dan Peterongan menjadi bukti nyata komitmen Pemkot untuk memperkuat pertahanan kota dari genangan air.

Ini bukan sekadar respons darurat, melainkan sebuah strategi jangka panjang yang matang, belajar dari pengalaman pahit banjir di penghujung 2024-2025.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa langkah antisipasi yang diambil kali ini jauh melampaui sekadar penyiapan alat.

"Kami tidak hanya menyiapkan alat, tetapi telah membenahi akar masalahnya," ujar Agustina.

Pernyataan ini mengindikasikan pergeseran paradigma dari penanganan reaktif menjadi preventif dengan fokus pada perbaikan infrastruktur permanen.

Ini adalah kabar baik bagi warga Semarang yang selama ini kerap dihantui ancaman banjir setiap musim hujan tiba.

Salah satu terobosan signifikan adalah pelebaran outlet di wilayah Kaligawe. Outlet yang semula hanya 10 meter kini diperlebar hingga empat kali lipat menjadi 40 meter.

Langkah drastis ini diharapkan mampu mengalirkan air secara optimal dan mencegah terulangnya genangan parah yang sering melumpuhkan kawasan tersebut. Selain itu, sistem polder juga dimutakhirkan dengan pengerukan dan pendalaman puluhan "umpung-umpung" (waduk mini) di kawasan Mijen, seperti di Jatingaleh.

Baca Juga: Semarang Diguyur Hujan Ringan: Waspada Potensi Banjir Rob dan Dampak Ekonomi

Upaya ini menunjukkan pemahaman mendalam Pemkot terhadap karakteristik hidrologi kota dan kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas penampungan air.

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang juga tak tinggal diam. Selain memperkuat armada pompa dengan penempatan unit-unit baru di titik-titik krusial seperti Tawang Mas dan Peterongan, DPU secara intensif melakukan pembersihan dan normalisasi saluran utama.

Daerah-daerah vital seperti Simpang Lima, Jalan Gajahmada, Pandanaran, dan sepanjang Banjir Kanal Timur menjadi fokus utama untuk menjaga kelancaran aliran air.

Ini adalah langkah krusial untuk memastikan bahwa sistem drainase kota berfungsi maksimal dan tidak tersumbat oleh sampah atau sedimen.

Agustina Wilujeng Pramestuti juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Keberhasilan penanganan banjir di Semarang, menurutnya, adalah buah dari koordinasi yang solid, melampaui batas kewenangan administratif.

Koordinasi rutin terus dijalin dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai), BPJN, Kodim, dan instansi terkait lainnya.

Load More