- Pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan (18) hilang saat pendakian cepat "tektok" di Gunung Slamet, gunung tertinggi Jawa Tengah.
- Medan Slamet berbahaya karena jurang tersembunyi oleh vegetasi lebat dan perubahan cuaca ekstrem yang mendadak.
- Banyaknya jalur, risiko satwa liar, serta aturan ketat bagi pendaki "tektok" menyoroti persiapan penting pendakian.
4. Habitat Macan Kumbang di Jalur Pendakian
Fakta mengejutkan lainnya adalah keberadaan macan kumbang di sekitar jalur pendakian.
Handika Hengki mengungkapkan bahwa "bahkan, dua kali Tim SAR bertemu dengan macan kumbang pada saat pencarian" di sekitar sungai yang mengarah ke Gunung Malang.
Keberadaan hewan buas ini menambah risiko bagi para pendaki, terutama jika mereka tersesat atau terpisah dari rombongan.
5. Jalur Pendakian yang Banyak dan Tidak Jelas
Gunung Slamet memiliki pos pendakian di lima kabupaten, yaitu Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga.
Bergas C. Pananggungan, Kepala BPBD Jateng, menjelaskan bahwa "jalur pendakian dan cabang jalurnya banyak, sehingga identifikasi perkiraan posisi korban tidak mudah."
Banyaknya jalur dan cabang ini bisa membingungkan pendaki, terutama yang kurang berpengalaman atau tidak membawa alat navigasi yang memadai, sehingga berisiko tersesat.
6. Risiko Tinggi Metode Tektok
Baca Juga: Evakuasi Dramatis di Gunung Slamet: Seorang Pendaki Ditemukan Meninggal Dunia
Metode pendakian "tektok" atau pendakian cepat dalam sehari, yang dilakukan Syafiq dan Himawan, memiliki risiko yang sangat tinggi jika tidak dipersiapkan dengan matang.
Ketua Pos Bambangan, Saiful Amri, bahkan sudah memperketat aturan tektok sejak November 2024 karena banyaknya kasus pendaki yang bermasalah.
"Kami meminta kepada pendaki tektok agar menyerahkan sertifikat dari ALTI [Asosiasi Lari Trail Indonesia]. Mereka yang akan tektok sudah harus pernah mengikuti trail run setidaknya 15 kilometer. Ini syarat mutlak," tegas Saiful. Tanpa persiapan fisik dan mental yang kuat, serta peralatan yang memadai, tektok bisa berujung pada cedera, kelelahan ekstrem, bahkan hilang.
7. Kurangnya Logistik dan Perlengkapan
Kasus Syafiq juga menyoroti pentingnya membawa logistik dan perlengkapan yang cukup. Berdasarkan pengakuan Himawan, Syafiq berangkat mencari bantuan tanpa membawa apa-apa, yang menyulitkan tim SAR untuk melacak jejaknya.
Hariyawan Agung Wahyudi menekankan bahwa logistik harus dilebihkan sekitar dua hari dari rencana perjalanan terjadwal untuk mengantisipasi kendala di jalan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah
-
Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan
-
Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun
-
Dugaan Tabrak Lari di Bantul, Pengemudi Mobil Ditangkap Warga Usai Hantam Pemotor Hingga Tewas
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan