Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 09 Januari 2026 | 21:16 WIB
Walikota Magelang, Damar Prasetyono, menjenguk relawan SAR, Sugeng Karyono di RSUD Tidar, Jumat (9/1). [Suara.com/Angga Haksoro]
Baca 10 detik
  • Pencarian Syafiq Ali (18 tahun) di Gunung Slamet terhambat vegetasi lebat dan informasi kronologis minim.
  • Operasi SAR resmi dihentikan pada Rabu, 7 Januari 2026, karena cuaca buruk dan risiko keselamatan tim.
  • Rekan pendaki, Himawan, disebut saksi kunci, namun keterangannya masih belum fokus akibat diduga trauma.

SuaraJawaTengah.id - Pencarian Syafiq Ali (18 tahun), pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Slamet, terhambat minimnya informasi kronologis serta medan hutan yang lebat.

Tim SAR gabungan kesulitan menentukan titik pencarian. Hingga operasi resmi dihentikan, Rabu 7 Januari 2026, Syafiq Ali belum ditemukan.  

“Vegetasinya sangat lebat, kebetulan cuacanya juga tidak bersahabat. Yang dilakukan teman-teman sudah maksimal,” kata salah seorang relawan SAR, Sugeng Karyono, Jumat (9/1/2025).

Sugeng Karyono berpengalaman mendaki gunung sejak tahun 1995. Lelaki berusia 60 tahun itu sering terlibat operasi penyelamatan di medan ekstrem, termasuk Gunung Semeru.

Berangkat bersama tim BPBD dan SAR dari Kabupaten dan Kota Magelang, Sugeng secara sukarela mengajukan diri ikut terlibat mencari Syafiq Ali.  

Menurut Sugeng, di Gunung Slamet waktu pencarian efektif hanya menyisakan beberapa jam setiap hari. Tim SAR diburu waktu antara jeda cuaca cerah dengan batas masa pencarian.  

“Kalau sudah pukul satu siang, hujan dan kabut turun. Kami tidak mau ambil risiko. Komandan Basarnas juga tidak mau ada korban tambahan, jadi operasi harus berhenti,” ujarnya.

Terlebih area pencarian yang dijelajahi tim SAR bukan melintasi jalur pendakian umum. Mereka merambah bibir tebing dan punggung gunung yang terjal.   

Di tengah keterbatasan itu, satu nama disebut sebagai saksi kunci: Himawan. Dia satu-satunya rekan seperjalanan Syafiq Ali mendaki Gunung Slamet.

Baca Juga: Ini Kronologi Hilangnya Siswi SMKN 3 Semarang Saat Mendaki Gunung Slamet

Menurut para relawan, hanya Himawan yang mengetahui persis kronologi perpisahan mereka. “Pendaki itu idealnya beriringan, apalagi kalau cuma dua orang. Dia pasti tahu betul Ali ke mana dan di titik mana mereka berpisah,” kata Sugeng.

Masalahnya, keterangan yang diberikan Himawan sejauh ini dianggap belum cukup fokus. Diduga Himawan masih trauma dan ketakutan. “Kalau sudah bisa tenang dan menceritakan kejadian yang sebenarnya, pencarian akan jauh lebih terarah.”

Tim SAR mengaku sudah menerima keterangan awal. Tapi gambaran lokasi belum cukup akurat untuk dijadikan dasar menentukan titik pencarian baru.

Hutan Gunung Slamet bukan jalur yang mudah ditebak. Banyak jalan setapak di luar rute pendakian resmi, dengan kerapatan vegetasi tinggi dan kontur yang menguras tenaga.

Insting Sugeng Karyono justru mengarahkan pencarian di jalur pendakian Slamet melalui Baturaden. Jalur ini terkenal paling berisiko.

Dia khawatir Syafiq Ali yang semula naik lewat jalur Dipajaya di Pemalang, tersesat hingga salah masuk rute lain.

Load More