- Pencarian Syafiq Ali (18 tahun) di Gunung Slamet terhambat vegetasi lebat dan informasi kronologis minim.
- Operasi SAR resmi dihentikan pada Rabu, 7 Januari 2026, karena cuaca buruk dan risiko keselamatan tim.
- Rekan pendaki, Himawan, disebut saksi kunci, namun keterangannya masih belum fokus akibat diduga trauma.
SuaraJawaTengah.id - Pencarian Syafiq Ali (18 tahun), pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Slamet, terhambat minimnya informasi kronologis serta medan hutan yang lebat.
Tim SAR gabungan kesulitan menentukan titik pencarian. Hingga operasi resmi dihentikan, Rabu 7 Januari 2026, Syafiq Ali belum ditemukan.
“Vegetasinya sangat lebat, kebetulan cuacanya juga tidak bersahabat. Yang dilakukan teman-teman sudah maksimal,” kata salah seorang relawan SAR, Sugeng Karyono, Jumat (9/1/2025).
Sugeng Karyono berpengalaman mendaki gunung sejak tahun 1995. Lelaki berusia 60 tahun itu sering terlibat operasi penyelamatan di medan ekstrem, termasuk Gunung Semeru.
Berangkat bersama tim BPBD dan SAR dari Kabupaten dan Kota Magelang, Sugeng secara sukarela mengajukan diri ikut terlibat mencari Syafiq Ali.
Menurut Sugeng, di Gunung Slamet waktu pencarian efektif hanya menyisakan beberapa jam setiap hari. Tim SAR diburu waktu antara jeda cuaca cerah dengan batas masa pencarian.
“Kalau sudah pukul satu siang, hujan dan kabut turun. Kami tidak mau ambil risiko. Komandan Basarnas juga tidak mau ada korban tambahan, jadi operasi harus berhenti,” ujarnya.
Terlebih area pencarian yang dijelajahi tim SAR bukan melintasi jalur pendakian umum. Mereka merambah bibir tebing dan punggung gunung yang terjal.
Di tengah keterbatasan itu, satu nama disebut sebagai saksi kunci: Himawan. Dia satu-satunya rekan seperjalanan Syafiq Ali mendaki Gunung Slamet.
Baca Juga: Ini Kronologi Hilangnya Siswi SMKN 3 Semarang Saat Mendaki Gunung Slamet
Menurut para relawan, hanya Himawan yang mengetahui persis kronologi perpisahan mereka. “Pendaki itu idealnya beriringan, apalagi kalau cuma dua orang. Dia pasti tahu betul Ali ke mana dan di titik mana mereka berpisah,” kata Sugeng.
Masalahnya, keterangan yang diberikan Himawan sejauh ini dianggap belum cukup fokus. Diduga Himawan masih trauma dan ketakutan. “Kalau sudah bisa tenang dan menceritakan kejadian yang sebenarnya, pencarian akan jauh lebih terarah.”
Tim SAR mengaku sudah menerima keterangan awal. Tapi gambaran lokasi belum cukup akurat untuk dijadikan dasar menentukan titik pencarian baru.
Hutan Gunung Slamet bukan jalur yang mudah ditebak. Banyak jalan setapak di luar rute pendakian resmi, dengan kerapatan vegetasi tinggi dan kontur yang menguras tenaga.
Insting Sugeng Karyono justru mengarahkan pencarian di jalur pendakian Slamet melalui Baturaden. Jalur ini terkenal paling berisiko.
Dia khawatir Syafiq Ali yang semula naik lewat jalur Dipajaya di Pemalang, tersesat hingga salah masuk rute lain.
“Itu jalur berbahaya. Treknya panjang, vegetasinya tebal. Fauna juga masih aktif. Dulu kasus (mahasiswa hilang) UGM juga lewat sana. Butuh tiga hari tiga malam (pendakian). Orang yang tidak siap bisa habis di situ.”
Ali yang semula hanya berniat melakukan pendakian naik-turun (tektok) tanpa menginap, diduga tersesat tanpa logistik yang cukup. Dia juga dianggap minim pengalaman untuk mendaki gunung tertinggi kedua di Jawa itu. “Beda kalau dari awal memang memilih jalur itu (Baturaden). Ini kan tersesat.”
Setelah operasi SAR resmi dinyatakan selesai, pencarian kini dilanjutkan secara mandiri oleh keluarga dibantu relawan dan jaringan pendaki. Keputusan melanjutkan pencarian sepenuhnya berada di tangan keluarga dan instansi terkait.
Belum ada kepastian apakah tim SAR akan membuka kembali operasi pencarian terbatas. “Saya orang lapangan. Sepanjang masih ada informasi valid, terutama dari Himawan, pencarian masih mungkin difokuskan,” kata Sugeng.
Sugeng Karyono sendiri saat ini terbaring sakit di RSUD Tidar Kota Magelang. Mobil milik PMI Kota Magelang yang ditumpangi rombongan relawan mengalami kecelakaan di Desa Serayu, Purbalingga, Kamis (8/1).
Sebelumnya, dua pendaki pelajar SMA asal Magelang, Himawan dan Syafiq Ali, melakukan pendakian di Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Pemalang, 27 Desember 2025 malam.
Dari data registrasi, keduanya seharusnya telah turun dan kembali ke basecamp Dipajaya pada Minggu sore, 28 Desembar 2025. Namun, hingga malam keduanya tidak berkabar.
Relawan setempat kemudian melakukan pencarian. Pada pagi hari, relawan menemukan Himawan di luar jalur pendakian sekitar pos 9.
Himawan mengaku berpisah dengan Syafiq Ali di sekitar pos 9. Syafiq Ali memutuskan untuk turun gunung mencari bantuan untu
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Imlek Prosperity 2026, BRI Pererat Relasi Nasabah Lewat Perayaan Berkelas
-
25 Tepuk Puasa Anak TK: Cara Seru Orang Tua & Guru Menanamkan Cinta Ramadan
-
Luxio vs APV Arena: 7 Fakta Penting MPV Favorit Keluarga Buat Mudik Lebaran
-
7 Fakta Blak-blakan Penganiayaan Mahasiswa UIN Saizu di Kamar Kos Purwokerto
-
BRI Cepu Genjot Digitalisasi: QRIS Jadi Andalan UMKM di Festival Ramadhan 2026