Budi Arista Romadhoni
Senin, 16 Maret 2026 | 12:13 WIB
Pemudik saat menaiki bus dari Jakarta ke Jawa Tengah pada Senin (16/3/2026). [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Pelepasan 16.186 pemudik gratis menuju Jateng dipimpin Gubernur Luthfi pada Senin (16/3/2026) di TMII menggunakan 325 armada bus.
  • Program "Mudik Gampang Balik Tenang" ini kolaborasi Pemprov Jateng untuk meringankan pekerja informal perantauan Jabodetabek.
  • Pemprov Jateng juga menyiapkan fasilitas arus balik serta mengingatkan pemudik agar bekerja di Jateng saja, bukan kembali ke perantauan.

SuaraJawaTengah.id - Antusiasme luar biasa mewarnai pelepasan 16.186 peserta mudik gratis dari Jabodetabek menuju 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memimpin langsung pelepasan 325 armada bus di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Senin (16/3/2026).

Program bertajuk "Mudik Gampang Balik Tenang" ini menjadi bukti nyata komitmen Pemprov Jateng dalam meringankan beban masyarakat, khususnya para pekerja informal.

Dalam sambutannya, Gubernur Luthfi menegaskan skala besar program ini.

"Sebanyak 325 armada bus kita siapkan hari ini, dan bisa mengangkut 16.186 warga yang mudik ke Jawa Tengah. Tidak hanya itu, hari ini juga akan dilepas oleh Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen di Bandung. Besok kita juga akan lepas mudik gratis dengan kereta api," ujarnya. 

Program mudik gratis ini merupakan kolaborasi apik antara Pemprov Jateng, 35 pemerintah Kabupaten/Kota, Bank Jateng, serta pihak swasta. Sinergi ini bertujuan mulia untuk membantu masyarakat yang ingin bersilaturahmi ke kampung halaman tanpa terbebani biaya transportasi yang kerap melonjak jelang Lebaran.

Sasaran utama program ini adalah masyarakat Jawa Tengah yang berprofesi di sektor informal di Jabodetabek, seperti tukang bakso, pengemudi ojek online, pedagang warteg, asisten rumah tangga, hingga supeltas.

Gubernur Luthfi menekankan bahwa inisiatif ini adalah "bentuk kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat." Ia menambahkan, "Semua tumplek blek (tumpah ruah), kita openi (layani) untuk meringankan beban masyarakat kita di perantauan."

Lebih dari sekadar memfasilitasi perjalanan, Luthfi memandang para perantau ini sebagai "devisa bagi daerahnya masing-masing."

Baca Juga: Waspada! Semarang dan Sebagian Daerah Jawa Tengah Diprediksi Diguyur Hujan Hari Ini

Menurutnya, mudik tidak hanya tentang silaturahmi, tetapi juga memicu perputaran orang, barang, dan uang di daerah asal, yang pada gilirannya menggerakkan ekonomi lokal.

Namun, Luthfi juga menyampaikan pesan penting kepada para pemudik. Ia mengingatkan agar tidak mengajak teman atau saudara ke perantauan jika belum memiliki pekerjaan tetap.

"Kami tidak ingin membebani Jakarta dan sekitarnya, dengan mereka yang tidak siap kerja. Jawa Tengah sudah menyiapkan Balaik Latihan Kerja (BLK), sekolah vokasi dan sebagainya, kita kerja di Jawa Tengah saja,” tegasnya.

Komitmen Pemprov Jateng tidak berhenti pada arus mudik. Mereka juga telah menyiapkan armada yang sama untuk arus balik, dengan pemberangkatan dipusatkan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, dan beberapa titik lainnya, termasuk kereta api. Pendaftaran untuk kedua arah ini telah diatur secara online melalui aplikasi, memastikan proses yang efisien dan terorganisir.

Salah seorang pemudik penyandang disabilitas, Sugiyanto, mengungkapkan rasa syukurnya.

"Untuk mudik ke Soloraya ongkos lebaran bisa sampai Rp650 ribu per orang. Alhamdulillah program ini sangat membantu," ujar pria yang akan mudik ke Klego, Boyolali tersebut. Kesaksian Sugiyanto menjadi bukti nyata betapa program ini sangat meringankan beban masyarakat yang membutuhkan.

Load More