- Polisi mengungkap penjualan bahan petasan daring di TikTok dengan modus penyamaran sebagai "cat super" di Semarang.
- Pelaku berinisial SR dari Sumenep telah beroperasi sejak 2025 dan ditangkap atas ledakan fatal tersebut.
- Produk yang dijual bervariasi sesuai permintaan korban dan siap pakai, mengakibatkan tewasnya seorang bocah.
SuaraJawaTengah.id - Kasus ledakan yang menewaskan seorang bocah di Gayamsari, Semarang, akhirnya menemukan titik terang. Polisi mengungkap adanya praktik penjualan bahan petasan secara online dengan modus yang cukup mengecoh, yaitu menggunakan label “cat super”.
Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan, tetapi membuka fakta baru tentang celah berbahaya dalam penjualan bahan berisiko tinggi di platform digital. Berikut tujuh fakta penting yang perlu Anda pahami.
1. Modus Penjualan Disamarkan Jadi “Cat Super”
Pengungkapan kasus ini bermula dari penyelidikan Polrestabes Semarang terhadap sumber bahan peledak yang digunakan korban.
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma Sena, menjelaskan bahwa pelaku berinisial SR menjual produk tersebut melalui platform online dengan nama yang tidak mencurigakan.
“Dia modusnya menjual melalui di aplikasi TikTok dengan bukan sebutan bahan petasan, tapi cat super,” ujar Andika kepada awak media beberapa waktu lalu.
Strategi ini membuat produk berbahaya tersebut lolos dari pengawasan umum, karena tidak secara eksplisit disebut sebagai bahan peledak.
2. Sudah Beroperasi Sejak 2025
Yang mengejutkan, praktik ini ternyata bukan hal baru. Pelaku diketahui sudah menjalankan aktivitas tersebut cukup lama.
Baca Juga: 50 Lokasi Salat Idulfitri Muhammadiyah Semarang 2026 pada 20 Maret, Ini Daftar Lengkapnya
“Kalau di TikTok Shop sejak tahun 2025 dia jual. Baru ketahuan sekarang karena ini ada yang meledak ya,” lanjut Andika.
Artinya, selama lebih dari satu tahun, transaksi bahan berbahaya ini diduga berjalan tanpa terdeteksi, hingga akhirnya memicu tragedi.
3. Produk Dijual Sesuai Permintaan Pembeli
Polisi juga menemukan bahwa pelaku tidak hanya menjual satu jenis produk, melainkan menyesuaikan dengan permintaan pembeli.
“(Yang dijual bahan peledak atau petasan?) Tergantung request. Jadi ada bahan-bahannya, dia bisa jual terpisah,” jelas Andika.
Model penjualan seperti ini membuat pembeli bisa merakit sendiri atau meminta produk jadi, yang tentu meningkatkan risiko penggunaan tanpa pemahaman yang memadai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Semen Gresik Perkuat Budaya Anti Gratifikasi dan Penyuapan, Wujudkan Tata Kelola yang Berintegritas
-
Liburan ke Dieng Berapa Biayanya? Ini Daftar Lengkap Harga Tiket Wisata yang Perlu Disiapkan
-
Cuaca Semarang Hari Ini Diprakirakan Berawan, BMKG Minta Warga Tetap Pantau Perubahan Kondisi
-
Harga Telur Anjlok hingga Rp17 Ribu per Kg, Peternak Temanggung Klimpungan
-
Borobudur Ubah Konsep Liburan, Tak Sekadar Jalan-jalan tapi Belajar Budaya hingga Refleksi Diri