- Sejumlah Nahdliyin menentang penetapan Syaifullah Yusuf sebagai Ketua Penyelenggara Muktamar Nahdlatul Ulama yang diumumkan pada Kamis, 2 April.
- Dr. M. Kholidul Adib menilai penunjukan tersebut menciptakan konflik kepentingan karena Syaifullah Yusuf dianggap sebagai aktor penyebab dualisme internal.
- Penolakan ini bertujuan mendesak PBNU meninjau ulang kepanitiaan guna menjaga legitimasi moral serta marwah organisasi dari kepentingan politik praktis.
SuaraJawaTengah.id - Penetapan Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Ketua Penyelenggara Muktamar Nahlatul Ulama (NU) ditentang sejumlah Nahdliyin.
Keputusan itu dinilai bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk pengabaian terhadap etika organisasi dan upaya sistematis untuk melanggengkan konflik internal yang tengah membara.
Ketua Perkumpulan Reksobhumi Indonesia Dr M. Kholidul Adib,MSi menyebut sangat ironis ketika sosok yang selama ini dipandang publik sebagai salah satu "biang kerok" dan aktor utama di balik memanasnya suhu politik serta dualisme persepsi dalam tubuh nahdliyin, justru diberi mandat untuk memimpin forum tertinggi organisasi.
“Penunjukan ketua penyelenggara ini ibarat menunjuk pemicu api untuk menjadi semacam pemadam kebakaran,” ungkap Adib, Kamis (2/4).
Atas dasar itu, Adib menolak penunjukan Syaifullah Yusuf sebagai ketua penyelenggara Muktamar NU. Sebab ini menjadi konflik kepentingan yang nyata.
“Sebagai pihak yang terlibat langsung dalam ketegangan hubungan antar-elemen di NU belakangan ini, integritas dan netralitas Gus Ipul dalam mengawal Muktamar sangat diragukan,” sebut Adib.
Muktamar, tegas Adib, seharusnya menjadi ruang rekonsiliasi, bukan panggung bagi faksi tertentu untuk mengukuhkan dominasi.
“Alih-alih merangkul semua pihak sesuai semangat Ukhuwah Nahdliyyah, langkah-langkah politik Gus Ipul cenderung menciptakan polarisasi. Memberinya posisi kunci hanya akan memperlebar jurang pemisah di akar rumput,” tegas Adib.
Adib juga mengingatkan ancaman terhadap legitimasi Muktamar. Jika penyelenggaraan Muktamar dikendalikan oleh sosok kontroversial, hasil dari Muktamar tersebut akan kehilangan legitimasi moral.
Baca Juga: Gegara Foto Bareng Presiden Israel, Staf Khusus Bupati Kudus Dipecat!
“Keputusan-keputusan yang diambil nantinya akan terus dibayangi kecurigaan akan adanya skenario titipan,” terangnya.
Muktamar NU, tegas Adib, adalah hajat besar umat yang harus dijaga kesuciannya dari syahwat politik praktis dan kepentingan personal.
“Kami mendesak PBNU untuk meninjau ulang komposisi kepanitiaan ini demi menjaga marwah organisasi. Jangan biarkan masa depan NU digadaikan demi mengakomodasi aktor yang justru menjadi sumber kegaduhan,” jelasnya.
Adib menambahkan, NU membutuhkan pemersatu. “Bukan operator politik yang mahir menciptakan keretakan,” tandas Adib.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Riset CELIOS: Purbaya Jadi Menteri Kinerja Terbaik, Bahlil Paling Buruk
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
KDM di Undip: Lebih Baik jadi Akang tapi Menyenangkan, daripada jadi Bapak Kerjanya Naikin Pajak
-
Hadapi Musim Hujan, Semarang Siagakan 119 Pompa, Pengerukan 5 Lokasi Dikebut
-
BRI Perkuat Inklusi Keuangan, BRILink Agen Jangkau 60.000 Desa di Indonesia
-
Minta Maaf ke Warga Cilacap, Bupati Nonaktif Syamsul Auliya Rachman Bantah Terlibat Pengumpulan THR
-
Suhu Semarang Diprakirakan Tembus 36 Derajat, Warga Perlu Antisipasi Cuaca Siang Hari