- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah meminta pemerintah daerah melakukan langkah antisipatif menghadapi musim kemarau yang lebih kering pada 2026.
- Petani didorong mempercepat masa tanam serta memanfaatkan varietas adaptif agar produksi pangan tetap terjaga meski curah hujan menurun.
- Pemerintah daerah perlu memetakan wilayah kekeringan dan mengoptimalkan infrastruktur air guna memperkuat ketahanan pangan di seluruh Jawa Tengah.
SuaraJawaTengah.id - Pemerintah provinsi Jawa Tengah maupun kabupaten/kota diminta untuk segera melakukan langkah antisipatif menghadapi musim kemarau 2026.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, salah satu yang harus mendapat perhatian adalah sektor produksi pangan bisa terjaga, meski curah hujan diprediksi mulai menurun pada Mei mendatang.
“Pemerintah daerah bisa segera mendorong petani untuk melakukan percepatan masa tanam di berbagai sentra produksi, atau penyesuaian pola tanam untuk memanfaatkan sisa air hujan sebelum memasuki puncak kemarau,” ungkapnya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal, dan lebih kering dibandingkan rata-rata. Sebagian besar wilayah di Indonesia memasuki kemarau pada April-Juni 2026, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus.
Menurut Kakung, sapaan akrab Sarif Abdillah, hal yang tak kalah penting adalah pemetaan wilayah rawan kekeringan, hingga penguatan sistem peringatan dini.
“Termasuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber air, mulai dari embung, sumur dalam, hingga sistem irigasi perpompaan guna menjaga ketersediaan air di lahan pertanian,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Kakung pun mendorong petani memanfaatkan varietas padi adaptif guna mengantisipasi potensi kekeringan akibat musim kemarau ini.
“Pemerintah daerah harus bergerak bersama dengan petani, penyuluh, forkompinda dan seluruh stakeholder agar produksi pertaniaan khususnya pangan tetap optimal,” kata legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Sinergi, jelas Kakung menjadi kunci. Di mana semua tidak boleh menunggu dampak terjadi, baru bertindak.
Baca Juga: Waspada! Semarang Diguyur Hujan Ringan Hari Ini, Berpotensi Terjadi Cuaca Ekstrem
“Produksi pertanian harus tetap terjaga agar ketahanan pangan Jawa Tengah tetap kuat,” tegas Kakung.
Pemda, juga bisa secara aktif melaporkan perkembangan produksi pertanian di wilayah masing-masing kepada provinsi sebagai bagian dari upaya monitoring dan evaluasi.
“Ketahanan pangan adalah fondasi. Kita harus pastikan Jawa Tengah tetap menjadi lumbung pangan nasional, bahkan dalam kondisi iklim yang menantang,” tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
Terkini
-
Antisipasi Krisis Pangan, Sarif Abdillah Minta Pemda Segera Bergerak Sebelum Kemarau Puncak
-
Cuan Rp1 Miliar Per Bulan dari Oplos LPG Subsidi, Sindikat di Jateng Akhirnya Dibekuk Polisi!
-
10 Prodi Sepi Peminat Unsoed di SNBT 2026, Peluang Lolos Lebih Terbuka
-
Waspada! BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem di Masa Pancaroba: Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang
-
Viral! 6 Fakta Kecelakaan Tabrak Lari di Jepara, WNA Dikejar hingga Diamuk Warga