- Pemkot Yogyakarta menyediakan pendampingan psikolog intensif bagi 104 anak korban kekerasan di Daycare Little Aresha sejak April 2026.
- Wali Kota Hasto Wardoyo menambah dokter spesialis anak untuk melakukan audit kesehatan jangka panjang terkait potensi gangguan fisiologis.
- Tim psikolog melakukan wawancara mendalam untuk mendeteksi perubahan perilaku atau indikasi ketergantungan obat pada anak secara psikologis.
SuaraJawaTengah.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memastikan penanganan kesehatan mental dan fisik bagi 104 anak yang terdata sebagai korban dalam kasus kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan telah membagi tugas pendampingan psikologis secara merata agar seluruh anak mendapatkan perhatian intensif.
"Kami membagi psikolog itu, saya bagi habis dari anak yang jumlahnya 104 itu kita bagi habis punya pendampingan psikolog-psikolog semua yang sudah kami tunjuk. Ya rata-rata satu psikolog bisa empat orang, lima orang," kata Hasto kepada awak media, Rabu (29/4/2026).
Langkah ini diambil mengingat kompleksitas dampak trauma pada anak-anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Pemkot tidak ingin ada satu pun anak yang terlewat dari pengawasan profesional, terutama bagi anak yang belum mampu berkomunikasi secara verbal.
Tak hanya psikolog saja, Hasto menyebut akan menambah dokter anak untuk penanganan para korban lebih lanjut.
"Dokter anaknya tentu masih harus ditambah lagi. Saya ingin mencari dokter-dokter anak ahli tumbuh kembang yang saya akan titipkan dari 104 itu mungkin satu dokter anak mengampu berapa 20 atau 30 itu," ujarnya.
Disampaikan Hasto, bahwa pencarian dokter spesialis ini bertujuan untuk melakukan audit kesehatan jangka panjang. Hal ini penting untuk mendeteksi apakah terdapat gangguan fisiologis atau dampak klinis akibat perlakuan salah selama di tempat penitipan lama.
"Saya akan mencari lagi dokter-dokter anak yang bisa punya jiwa volunteer untuk bisa mengawal anak-anak kita ini," tegasnya.
Mengenai kecurigaan adanya penggunaan obat-obatan penenang seperti CTM kepada anak-anak, Hasto mengakui adanya kesulitan teknis jika dilakukan pemeriksaan biologis sekarang.
Baca Juga: Marak Ancaman Siber, Banyak Pelajar Tak Tahu Jogja Punya Museum Sandi Satu-satunya di Indonesia
Menurutnya, sifat obat tersebut memiliki masa paruh waktu yang singkat. Sehingga sulit dideteksi melalui sampel urine atau feses jika sudah lewat beberapa jam.
"Sehingga kalau misal saya memeriksanya lebih dari delapan jam kan sudah habis gitu ya karena punya paruh waktu sendiri-sendiri obat itu punya paruh waktu yang habisnya hanya hitungannya jam," jelasnya.
Sebagai solusinya, ia menginstruksikan tim psikolog untuk melakukan wawancara mendalam guna mendeteksi gejala adiksi atau perubahan perilaku yang tidak wajar.
"Pendekatan lain kita bisa lewat psikolog apakah anak ini ada tanda-tanda misalkan bahwa dia harus dengan obat tertentu atau adiksi itu misalkan," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Baru Ditunjuk Gubernur Jateng, SK Plt Bupati Sukoharjo Disita KPK, Ada Apa?
-
32 Tersangka Kasus Little Aresha Belum Semua Ditahan, Polisi Ungkap Alasannya
-
BRIvolution Reignite Perkuat Bisnis BRI, KUR hingga KPR Subsidi Terus Bertumbuh
-
Lebih dari 200 Penari dari Berbagai Daerah Ramaikan Lomba Tari Kreasi 2026 di Saloka Theme Park
-
Jateng Jadi Basis Pelanggan Terbesar Indosat, Trafik Data Naik 10,4 Persen