- Antrean panjang kendaraan terjadi di SPBU Jawa Tengah sejak Juni 2026 akibat lonjakan permintaan BBM Pertalite bersubsidi.
- Masyarakat beralih ke Pertalite karena disparitas harga yang tinggi setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi di wilayah tersebut.
- Pertamina menyatakan stok BBM aman dan menyebut antrean panjang disebabkan tingginya permintaan, bukan krisis energi atau kelangkaan.
SuaraJawaTengah.id - Pemandangan tak biasa kini hampir setiap hari menghiasi sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Jawa Tengah. Antrean kendaraan khususnya sepeda motor tampak mengular panjang hingga memakan bahu jalan utama. Masyarakat rela berdiri dan mengantre hingga puluhan menit demi bisa mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Pantauan sejumlah SPBU di Semarang, antrean panjang terjadi sejak sore hari sekitar pukul 16.30 sampai dengan pukul 21.00 WIB. Waktu tersebut bersamaan dengan waktu pulang kerja, di mana masyarakat biasanya memiliki waktu lebih luang untuk mengisi bahan bakar.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar di tengah publik, Apakah Jawa Tengah sedang dihantam krisis energi akut, ataukah ini efek domino dari migrasi massal konsumen Pertamax nonsubsidi yang terpaksa "turun kasta" ke Pertalite subsidi akibat tingginya disparitas harga?
Suara Konsumen: Rela Motor 'Blebet' ketimbang Isi Dompet Cepat Kempes
Gelombang migrasi dari BBM nonsubsidi ke subsidi diakui langsung oleh Ifa (26), seorang pekerja lapangan asal Semarang Utara. Ia mengaku terpaksa beralih menggunakan Pertalite karena harga Pertamax (RON 92) yang melambung tinggi sejak penyesuaian berkala dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter dinilai tidak lagi ramah bagi dompetnya. Di sisi lain, harga Pertamax Green 95 (RON 95) juga meroket ke angka Rp17.000 per liter.
"Saya mending turun ke Pertalite sekarang, Mas. Meskipun sebenarnya efeknya bikin mesin motor agak blebet (tersendat), daripada kantong saya boncos kalau maksa pakai Pertamax. Dulu modal Rp32 ribu pakai Pertamax bisa untuk mobilitas kerja lapangan seminggu. Setelah harga naik drastis kemarin, uang Rp32 ribu cuma dapat sedikit dan cuma bertahan 4 hari," curhat Ifa kepada Suara.com.
Ifa menambahkan, untuk menyiasati antrean Pertalite yang kian ekstrem, dirinya harus rela berburu bensin pada larut malam.
"Sebelum Pertamax naik saja antrean Pertalite sudah panjang, apalagi sekarang pas orang-orang ikutan pindah jalur ke Pertalite. Makanya saya siasati ngisi bensinnya malam hari di SPBU Pemuda," imbuhnya.
Senada dengan Ifa, Ashfi (32), warga Salatiga, menceritakan pengalamannya yang terjebak antrean super padat saat berada di Kudus pada siang hari saat akhir pekan.
Baca Juga: Big Bad Wolf Kembali ke Semarang, Bawa Sejuta Buku untuk Bangkitkan Minat Baca Generasi Muda
"Sekarang antrean Pertalite makin panjang. Biasanya cuma nunggu 5 menit, kemarin pas di Kudus pas hari Sabtu siang, saya harus antre sampai 15 menit. Itu panas banget cuacanya, sampai saya tinggal ke toilet dan ambil uang di ATM, pas balik baru giliran motor saya diisi," kata Ashfi.
*Nestapa Antre 30 Menit, Begitu Sampai Depan Dispenser Stok Malah Habis*
Kondisi lebih parah dialami oleh Arini Putri (26), warga Kota Semarang. Selama dua bulan terakhir, ia merasakan lonjakan antrean yang luar biasa di SPBU Veteran, jalur yang biasa ia lewati saat pulang kerja.
"Dua bulan ini antreannya sampai ke pojokan jalan. Ada sekitar 15 antrean motor di depan saya dan harus nunggu sampai 30 menit. Menyita waktu banget, tapi ya harus sabar kalau enggak gitu enggak dapat bensin," keluh Arini.
Bagi Arini, waktu yang terbuang bukan satu-satunya ketakutan terbesar. Masalah utama muncul ketika stok BBM subsidi tersebut tiba-tiba habis justru di saat masyarakat sudah lelah mengantre berjam-jam.
"Yang paling saya takuti itu kalau udah capek-capek antre, ternyata pas giliran kita stoknya habis. Saya pernah ngalamin, tinggal 2 antrean lagi di depan, tiba-tiba petugas bilang Pertalite-nya habis. Akhirnya cuma boleh beli Rp20 ribu. Sekarang triknya, kalau indikator bensin sisa dua strip dan kelihatan ada SPBU agak sepi, langsung masuk. Takut mogok di jalan karena kelamaan antre," tuturnya.
Data Konsumsi Jateng: 73 Persen Warga Bergantung pada Pertalite yang Tak Kunjung Turun
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bawa 10,63 Gram Sabu dari Pontianak, Dua Kurir Ditangkap di Pelabuhan Tanjung Emas
-
Profil Brigjen Roy Hardi Siahaan, Kapolda Jateng Pengganti Ribut Hari Wibowo
-
Kapolda Jateng Irjen Ribut Hari Wibowo Dimutasi, Digantikan Brigjen Roy Hardi Siahaan
-
Dukung MotoGP Mandalika 2026, BRI Dorong Perputaran Ekonomi hingga UMKM Lokal
-
Polresta Solo Siapkan 350 Personel Amankan Laga Persis Solo vs Kendal Tornado FC