- Wakil Ketua DPRD Jateng Sarif Abdillah meminta pemerintah memperkuat industri hilir garam untuk mengatasi anjloknya harga saat kemarau.
- Total produksi garam di Jawa Tengah pada tahun 2025 lalu mencapai 283.202,19 ton dengan Kabupaten Pati sebagai penghasil terbanyak.
- Pemerintah daerah didorong mengevaluasi kebijakan impor dan memaksimalkan peran BUMD PT SPJT guna melindungi kesejahteraan petani lokal.
SuaraJawaTengah.id - Pemerintah provinsi Jawa Tengah diminta memperkuat dan mempercepat industri hilir garam agar produksi petani dapat terserap, baik untuk kebutuhan garam konsumsi maupun garam industri.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah dalam menyoroti anjloknya harga garam rakyat yang kembali terjadi saat musim kemarau di sejumlah daerah.
"Persoalan ini terus berulang setiap tahun. Saat musim hujan produksi garam menurun sehingga harga meningkat, namun ketika musim kemarau produksi melimpah justru harga garam jatuh dan petani kesulitan memasarkan hasil panennya," ungkapnya.
Kata Kakung, sapaan akrab Sarif, selama ini di Jateng ada Pabrik Garam Industri milik BUMD, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT).
"Selain membantu menstabilkan harga garam, juga akan bisa memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap kinerja perusahaan maupun peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," sebut Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jateng ini.
BUMD tersebut, kata Kakung, jangan hanya menjadi pedagang garam.
"Bukan pelaku utama industrialisasi garam yang mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan, daerah, dan kesejahteraan petani garam," kata legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Total produksi garam di Jateng pada 2025 lalu mencapai 283.202,19 ton. Kabupaten Pati berada di urutan teratas dengan 211.544,23 ton, disusul Rembang dengan 42.11,30 ton.
Kakung melanjutkan, pemerintah juga diminta mengevaluasi kebijakan impor garam agar tidak merugikan petani lokal, sekaligus mendorong penerapan teknologi produksi.
Baca Juga: Wakil Ketua DPRD Jateng: UMKM Jangan Terhambat BI Checking dan Sulitnya Permodalan
"Sehingga produktivitas petani tetap meningkat meski menghadapi perubahan musim," bebernya.
Kakung berharap berbagai langkah tersebut mampu menjaga stabilitas harga garam, meningkatkan kesejahteraan petani.
"Sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, khususnya di daerah penghasil garam," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
Pilihan
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
Terkini
-
Tiga Tim Rebut Gelar Juara Piala by.U Series Semarang 2026, Persaingan Atlet Futsal Muda Memanas
-
Tak Hanya di Bandara, Ini Lokasi BRI Money Changer untuk Tukar Valas
-
Bau Tak Sedap Antar Warga pada Temuan Pilu, Pria 64 Tahun Ditemukan Meninggal di Kamar Kos
-
Siswa Keracunan Makan Bergizi Gratis di Batang, Wali Murid Beri Pesan Tegas ke Gibran
-
BRI Peduli Hadirkan Sepeda Bagi Mahesa yang Bersekolah di Pesisir Semarang: Makin Semangat Belajar