- Program Mami Sera di Kelurahan Mangunharjo Semarang menyatukan petani dan UMKM dalam ekosistem ekonomi.
- PT Pertamina memberikan pendampingan serta sarana produksi untuk memperkuat ketahanan pangan warga pesisir.
- Kolaborasi warga berhasil meningkatkan produksi serta omzet berbagai produk lokal melalui koperasi.
Utami memilih membuat telur asin tanpa menggunakan tawas. Konsekuensinya, daya simpan produk memang lebih pendek. Namun ia meyakini cara tersebut lebih baik untuk konsumen.
Prosesnya pun dilakukan secara sederhana.
Telur bebek yang disetorkan peternak terlebih dahulu dicuci hingga bersih. Setelah itu, telur dibaluri campuran bata merah dan garam dengan komposisi satu banding satu.
Telur kemudian dibungkus satu per satu dan didiamkan selama 15 hari.
Setelah proses pemeraman selesai, telur kembali dicuci, direbus, dan siap dipasarkan.
Dari proses sederhana tersebut, bisnis Utami justru berkembang. Sebelum bergabung dalam Mami Sera, produksi telur asinnya rata-rata sekitar 1.500 butir per bulan.
Kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 2.500 butir per bulan.
Dengan harga jual sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per butir, peningkatan produksi itu ikut mendorong keuntungan Utami naik sekitar 35 persen.
"Produksinya semakin banyak, omzetnya juga semakin banyak," ujarnya.
Baca Juga: Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kampung 'Gang Presiden' Warga Berkostum Adat Olahan Limbah
Telur asin itu juga tidak berhenti sebagai telur rebus. Kreativitas ibu-ibu membuatnya berkembang menjadi produk lain, salah satunya kerupuk telur asin.
Proses pembuatannya cukup panjang.
Telur asin yang sudah direbus dipisahkan antara putih dan kuningnya. Keduanya kemudian dibuat menjadi adonan berbeda. Adonan putih menjadi bagian luar, sedangkan kuning telur ditempatkan di bagian tengah.
Adonan tersebut digulung menyerupai lontong dan dibungkus daun sebelum dikukus selama satu jam.
Setelah dingin, adonan disimpan di dalam kulkas. Keesokan harinya, adonan dirajang tipis dan dijemur selama dua hari sebelum akhirnya siap digoreng.
Dari telur bebek yang sederhana, lahirlah produk dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
Terkini
-
Yoyok Sukawi Mundur Jelang KLB, Suksesi PSSI Jateng Makin Penuh Tanda Tanya
-
Bau Busuk di Gedung Kosong Kendal, Pria Terborgol Ditemukan Tewas
-
BRI Junio Hadir dengan Sentuhan Mobile Legends, Ada Kartu Koleksi hingga Cashback
-
Kapolda Jateng Tegaskan Tiga Fokus: Berantas Kejahatan, Layani Warga, Respons Cepat
-
Teriakan dari Sumur Bikin Geger, Warga Solo Dievakuasi Tim SAR, Begini Kondisinya