- Sebanyak 777 orang di SMAN 1 Lasem mengalami gangguan pencernaan pada 3 September 2026 akibat program Makan Bergizi Gratis.
- Dinas Kesehatan Rembang mengambil sampel makanan berupa ayam untuk diuji laboratorium guna memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.
- Pemerintah Kabupaten Rembang menghentikan sementara operasional penyedia makanan SPPG Soditan Lasem dan menanggung seluruh biaya pengobatan korban.
SuaraJawaTengah.id - Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berdampak cukup luas. Hingga Kamis (3/9/2026) sore, sebanyak 777 orang dilaporkan mengalami keluhan, terdiri dari ratusan siswa serta guru dan tenaga kependidikan.
Dikutip dari Jatengnews.id, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang Ali Syofii menyebut 777 orang yang terdampak terdiri atas 752 siswa dan 25 guru maupun tenaga kependidikan.
“Yang terdampak dari kasus ini sebanyak 777 orang. Terdiri dari 752 siswa dan 25 guru atau TU,” kata Ali, Kamis (3/9/2026).
Mayoritas korban mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada gangguan pencernaan, mulai dari diare, mual hingga muntah. Tingkat keluhan yang dialami berbeda-beda sehingga penanganannya pun disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Mereka yang mengalami gejala ringan diperbolehkan pulang dan menjalani perawatan di rumah. Sementara korban dengan kondisi lebih berat mendapat penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Dinkes Rembang mencatat Puskesmas Lasem menerima 21 siswa yang mengalami gejala. Dari jumlah tersebut, lima siswa harus menjalani rawat inap, sedangkan 16 lainnya mendapatkan penanganan secara rawat jalan.
Selain di Puskesmas Lasem, dua siswa menjalani rawat jalan di Puskesmas Pancur. Satu siswa lainnya memperoleh pengobatan melalui dokter praktik perorangan di wilayah Lasem.
Lima siswa yang menjalani rawat inap mengalami mual, muntah dan diare dengan frekuensi cukup sering. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu dehidrasi sehingga dokter memutuskan mereka perlu mendapatkan observasi dan perawatan di puskesmas.
“Dirawatnya karena dokter menilai yang dirawat itu mungkin diarenya frekuensinya sering dan potensi adanya dehidrasi. Sehingga kemudian mengambil langkah untuk dilakukan perawatan di Puskesmas,” jelas Ali.
Baca Juga: Kasus Jasad Perempuan Terbakar di Demak: Motif Diduga Cemburu, Tersangka Residivis Pembunuhan
Meski jumlah warga sekolah yang terdampak mencapai ratusan, Dinkes Rembang memastikan hingga saat ini tidak ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Makanan MBG Jadi Fokus Penelusuran
Besarnya jumlah korban membuat sumber makanan yang dikonsumsi bersama menjadi salah satu fokus penelusuran Dinkes Rembang.
Dugaan sementara mengarah pada makanan dalam paket MBG yang dibagikan kepada siswa dan tenaga pendidik pada Rabu (2/9/2026).
Menu yang dibagikan terdiri dari nasi, ayam bakar, lalapan dan buah semangka.
Dari pemeriksaan awal, terdapat temuan pada salah satu komponen makanan yang dinilai perlu dicermati, yakni ayam.
“Ada di antara beberapa itu yang ayam yang sudah agak teksturnya kurang baik,” ujar Ali.
Namun, Dinkes Rembang belum menyimpulkan makanan tersebut sebagai penyebab keracunan.
Ali menegaskan temuan mengenai kondisi ayam masih sebatas hipotesis awal. Untuk memastikan sumber masalah, petugas telah mengambil sejumlah sampel makanan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
“Sementara hipotesisnya di situ. Selanjutnya kami sudah mengambil sampel. Insyaallah besok kita kirimkan ke Labkes Provinsi,” katanya.
Pemeriksaan tersebut akan mencakup uji kimia dan bakteriologis. Hasil laboratorium nantinya menjadi dasar untuk memastikan apakah makanan dalam paket MBG memang berkaitan dengan munculnya keluhan yang dialami ratusan warga SMA Negeri 1 Lasem.
“Kita tunggu hasilnya untuk uji kimia dan uji bakteriologis terkait dengan kasus ini,” imbuh Ali.
Operasional SPPG Dihentikan Sementara
Kasus tersebut juga berimbas langsung terhadap operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Lasem yang menjadi penyedia makanan MBG.
Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang Fahrudin mengatakan operasional SPPG Soditan Lasem dihentikan sementara mulai Jumat (4/9/2026).
“Operasionalnya mulai besok diberhentikan sementara untuk dikaji ulang dan bagaimana penangannya selanjutnya,” kata Fahrudin.
Penghentian sementara dilakukan sembari dilakukan evaluasi terhadap penanganan dan pelaksanaan penyediaan makanan MBG.
Keputusan tersebut menjadi langkah penting di tengah proses investigasi untuk mencari penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan yang dialami ratusan siswa, guru dan tenaga kependidikan.
Di sisi lain, persoalan pembiayaan pengobatan korban juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Fahrudin menyampaikan biaya perawatan bagi korban, baik yang menjalani rawat inap maupun rawat jalan, pada prinsipnya akan ditanggung oleh pihak pengelola SPPG.
“Itu biasanya masalah perawatan itu ditanggung oleh pemilik atau pengelola SPPG,” ujarnya.
Kasus di SMA Negeri 1 Lasem kini tidak hanya menjadi persoalan kesehatan warga sekolah, tetapi juga menjadi ujian terhadap pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Dengan jumlah terdampak mencapai 777 orang, hasil pemeriksaan laboratorium menjadi kunci untuk mengungkap apakah makanan yang dibagikan dalam program tersebut benar-benar menjadi sumber munculnya gangguan kesehatan.
Sambil menunggu hasil laboratorium, operasional SPPG Soditan Lasem dihentikan sementara. Pemerintah daerah pun perlu memastikan evaluasi tidak hanya berfokus pada kejadian kali ini, tetapi juga pada standar pengolahan, penyimpanan, distribusi dan pemeriksaan makanan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 3 September 2026, Kesulitan Karier dan Keuangan Segera Berakhir
- Emil Audero Cabut, Cesc Fabregas Blak-blakan Dibuat Kecewa Kiper Como
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- Powder Foundation Wardah untuk Kulit Sawo Matang Shade Apa? Ini 5 Pilihannya
- 5 Shio Beruntung Hari Ini 4 September 2026, Urusan Mulai Lancar
Pilihan
-
Muncul Kubah Lava Baru di Gunung Anak Krakatau, PVMBG Jawab Kekhawatiran Potensi Tsunami
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Tengah Malam: Fenomena Lava Air Mancur Muncul
-
Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
-
Gempa M 5,3 Guncang Cilacap Siang Ini, Getaran Terasa hingga DIY dan Jabar
-
Api Masih Merah! 105 Personel Cari Korban Kebakaran Apartemen Pavilion Tanah Abang yang Terjebak
Terkini
-
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Sandang Gelar Kanjeng Raden Haryo dari Keraton Surakarta
-
42 Gol dari Tiga Uji Coba, Kendal Tornado FC Makin Pede Jelang Kompetisi
-
Tersangka MDFS Akui Bunuh Mozza Karena Cemburu, Berkenalan Via TikTok
-
Weekend di Semarang? Ini Tips Bapak-Bapak Jadi Teman Setia Antar Istri
-
Polisi Periksa 17 Saksi Kasus Pengeroyokan Dua Anggota Polsek Ngawen Blora