Budi Arista Romadhoni
Minggu, 11 Oktober 2026 | 10:06 WIB
Pelari saat start di acara Semarang Heritage Night Run (SHNR) 2026 di Kota Lama, Sabtu (10/10/2026). (Suara.com/Budi Arista Romadhoni)
Baca 10 detik
  • Pemerintah Kota Semarang dan Katadata menyelenggarakan Semarang Heritage Night Run pada Sabtu di Kota Lama.
  • Lebih dari tiga ribu peserta mengikuti ajang lari malam untuk menikmati lima zona budaya tematik.
  • Kegiatan olahraga pariwisata ini bertujuan menghidupkan kawasan bersejarah sekaligus menggerakkan ekonomi pelaku usaha lokal.

SuaraJawaTengah.id - Semarang Heritage Night Run (SHNR) 2026 tak sekadar menghadirkan ajang olahraga lari malam, tetapi juga menjadi strategi untuk menghidupkan kawasan heritage sebagai destinasi wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

Digelar pada Sabtu (10/10/2026), kegiatan yang mengusung tema “Bergerak Hebat Menyusuri Harmoni Kota” ini memadukan olahraga, sejarah, dan keberagaman budaya Semarang. Lebih dari 3.000 peserta dari kalangan masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, akademisi, hingga komunitas mengikuti ajang yang mengambil titik start dan finis di Metro Point, kawasan Kota Lama Semarang.

Kolaborasi Pemerintah Kota Semarang dan Katadata sebagai mitra penyelenggara tersebut menjadi salah satu upaya memperluas daya tarik kawasan bersejarah melalui pendekatan sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga.

Melalui konsep ini, kawasan heritage tidak hanya ditawarkan sebagai tempat menikmati arsitektur bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai ruang publik untuk berolahraga, berinteraksi, dan mengenal identitas kota.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti sebelumnya menyampaikan bahwa konsep lari malam dipilih untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat. Menurutnya, Semarang memiliki kekayaan heritage dan kuliner yang dapat dikemas menjadi daya tarik wisata.

“Run itu kan (biasanya) pagi, (SHNR) ini malam, seru kan? Terus, heritage, karena Kota Semarang terkenal dengan heritage dan kuliner. Nah, kami membuat sesuatu yang different,” ujar Agustina

Konsep tersebut memberikan ruang bagi kawasan bersejarah untuk dinikmati dengan cara yang berbeda. Aktivitas lari menjadi pintu masuk bagi peserta untuk mengenal karakter Semarang, termasuk jejak sejarah dan percampuran budaya yang membentuk identitas kota.

Lima Zona Budaya Jadi Daya Tarik

Salah satu kekuatan Semarang Heritage Night Run 2026 terletak pada pengemasan pengalaman berlari dengan atraksi budaya di sepanjang rute.

Baca Juga: Mobil Listrik Tak Cuma Soal Teknologi, GAC Bawa AION UT Urban ke GIIAS Semarang 2026

Penyelenggara menghadirkan lima zona tematik yang merepresentasikan kekayaan tradisi dan keberagaman masyarakat Semarang.

Kelima zona tersebut meliputi Semarangan Tempo Doeloe, Gebyuran, Pecinan Semarang, Semarangan Legend, dan Gambang Semarang.

Di zona Semarangan Tempo Doeloe, peserta diperkenalkan dengan suasana keseharian masyarakat melalui representasi penjual jamu, penjual lumpia, Tari Denok Semarangan, serta iringan musik campursari.

Sementara itu, zona Gebyuran mengangkat tradisi perang air yang melambangkan penyucian diri. Suasana diperkuat dengan iringan hadroh dan interaksi yang memungkinkan peserta merasakan pengalaman budaya secara langsung.

Nuansa budaya Tionghoa hadir di zona Pecinan Semarang melalui atraksi barongsai, lampion, serta ornamen yang terinspirasi dari Mooncake Festival.

Selanjutnya, zona Semarangan Legend menghadirkan elemen vintage, karakter lintas sejarah, dan musik yang merepresentasikan perjalanan budaya kota.

Load More