Budi Arista Romadhoni
Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:18 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM (tiga dari kiri), didampingi Wakil Rektor IV Undip Wijayanto dan Dekan FIB Undip (paling kiri) Prof. Alamsyah ketika melihat pameran keris di Gedung Art Center A FIB Undip, Tembalang, Kota Semarang, Selasa (13/10/2026). [Suara.com/Eka Setiawan]
Baca 10 detik
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan orasi budaya dalam Dies Natalis ke-61 FIB Undip di Semarang pada Selasa, 13 Oktober 2026.
  • Dedi Mulyadi memilih dipanggil Akang dan Cepot serta berkomitmen mempertahankan kebudayaan meskipun menghadapi berbagai ancaman fisik dan intimidasi politik.
  • Dedi Mulyadi memberikan dua belas beasiswa kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro sampai lulus kuliah.

SuaraJawaTengah.id - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau kerap disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) menceritakan gelar pertamanya dipanggil Cepot hingga “menabrak” tatanan birokrasi dengan memilih dipanggil Akang daripada Bapak.

Itu diungkapkan KDM saat menyampaikan Orasi Budaya “Merawat Budaya Menumbuhkan Peradaban” dalam rangka Dies Natalis ke-61 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (13/10/2026).

KDM bercerita tentang dinamika kepemimpinannya di civitas akademika Undip yang hadir. Termasuk soal panggilan yang melekat.

Soal panggilan Akang atau Kang, sebut KDM, sempat dianggap merusak tatanan birokrasi.

“Saya mengganti panggilan terhadap pemimpin, termasuk kepada saya, biasanya (dipanggil) bapak, bapak, bapak. Saya nggak usah dipanggil bapak. Cukup Kang Dedi saja. Keluar lagi bahasa ini orang merusak tatanan birokrasi, nggak ada dalam ilmu birokrasi kalimat Akang pada yang lebih tinggi kedudukannya,” kata KDM.

“Lebih baik jadi Akang menyenangkan, daripada jadi Bapak kerjanya naikin pajak,” lanjut KDM yang disambut tawa hadirin.

Dia juga mengenang ketika tahun 2003, memakai ikat kepala masih berwarna hitam. Gelar pertamanya adalah Cepot. KDM menyebut Cepot ini kalau di Jawa adalah Bagong. Bedanya, Bagong adalah anak bungsu, sementara Cepot anak paling Sulung (dalam pewayangan Sunda).

“Saya selalu mengatakan, tidak pernah marah. Saya katakan, lebih baik dipimpin oleh Cepot tapi membuat bahagia daripada dipimpin Arjuna hanya menambah istri dalam setiap periodenya,” ungkap KDM yang lagi-lagi disambut tawa hadirin.

Saat sering mengucapkan Sampurasun, KDM salah satunya ingin menghidupkan lagi budaya wiwitan. Dia menegaskan, orang Sunda harus kembali kepada wiwitan, sebab jika tidak maka tidak akan tahu masa depan.

Baca Juga: Peserta UTBK Undip Berdalih Tak Paham Alat Dengar di Telinga, Polisi Beri Pembinaan

Dia menyebut seluruh perjalanan itu bukan hanya persoalan perjalanan perdebatan publik dalam wacana akademis, tetapi sudah mengarah ke bullying fisik.

Dia bercerita rumah dinasnya pernah dilempari batu, disebut Dajjal Sunda. Anaknya mengalami trauma di sekolah karena mendapat stiker-stiker yang intinya ancaman pembunuhan, mobilnya juga pernah jadi sasaran pelemparan.

“Saya pernah dikejar 25 orang di Garut dengan membawa pedang. Semua hanyalah satu kecurigaan kepada saya, dianggap akan menghidupkan budaya masa lalu dan dianggap sebagai ancaman,” ceritanya.

KDM juga mengaku sering mendapat masukan dari konsultan untuk mengubah cara berpikir pembangunan dan politik karena dianggap akan mendegradasi keterpilihan di era masyarakat memilih langsung.

“Saya katakan, lebih baik saya tidak terpilih tapi berpegang teguh pada kebudayaan yang saya jadikan wacana ideologi pembangunan daripada saya berganti judul hanya untuk sebuah kekuasaan,” tegasnya.

“Saya yakin gitu loh, bahwa orang Sunda, daerah yang saya pimpin, itu tidak akan lagi melihat apa yang dibicarakan, tidak lagi melihat apa yang diwacanakan, tetapi akan melihat apa yang diperbuat,” jelasnya.

Load More