Budi Arista Romadhoni
Rabu, 21 Oktober 2026 | 07:28 WIB
Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam kamera jebak (camera trap) di kawasan Cagar Alam Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, dalam pemantauan singkat yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah pada 12-15 Oktober 2026. ANTARA/HO-RKSDA Cilacap
Baca 10 detik
  • BKSDA Jawa Tengah merekam satu individu Macan Tutul Jawa menggunakan kamera jebak di Cagar Alam Nusakambangan Barat pada tanggal 13 hingga 14 Oktober 2026.
  • Populasi Macan Tutul Jawa di Pulau Nusakambangan sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 20 individu berdasarkan hasil penelitian terakhir di kawasan tertentu.
  • BKSDA Jawa Tengah mengimbau masyarakat dan pekerja agar tidak mengganggu satwa liar serta menjauh perlahan jika bertemu macan tutul.

SuaraJawaTengah.id - Kemunculan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) di Cagar Alam Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, kembali terekam kamera jebak milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Rekaman ini menjadi pengingat pentingnya menjaga habitat satwa liar, terutama di tengah aktivitas proyek pembangunan yang berlangsung di sejumlah lokasi di Pulau Nusakambangan.

Macan tutul tersebut terekam dalam pemantauan singkat yang dilakukan BKSDA Jawa Tengah pada 12–15 Oktober 2026. Dari hasil pemantauan itu, kamera jebak menangkap satu individu yang diperkirakan terekam pada Selasa (13/10) malam hingga Rabu (14/10) dini hari.

Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA) Wilayah Cilacap, Wahyono Restanto, mengatakan rekaman tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan jumlah populasi Macan Tutul Jawa di seluruh Pulau Nusakambangan.

“Pemantauan kemarin hanya sebentar. Yang tertangkap kamera trap satu individu,” kata Wahyono dikutip dari ANTARA di Cilacap, Rabu (21/10/2026).

Berdasarkan penelitian terakhir, populasi Macan Tutul Jawa di Pulau Nusakambangan diperkirakan mencapai sekitar 20 individu. Dari jumlah tersebut, sekitar empat individu pernah terpantau di Cagar Alam Nusakambangan Barat dan enam individu di Cagar Alam Nusakambangan Timur. Sementara itu, individu lainnya diperkirakan berada di kawasan hutan di luar cagar alam.

Wahyono menegaskan, angka tersebut merupakan hasil pengamatan di kawasan tertentu dan belum menggambarkan pendataan menyeluruh terhadap populasi macan tutul di seluruh pulau.

Aktivitas pembangunan perlu menjadi perhatian

Selain menjadi habitat Macan Tutul Jawa, Nusakambangan juga menyimpan keanekaragaman satwa liar lainnya. Pemantauan menggunakan kamera jebak sebelumnya turut merekam keberadaan kancil, kijang, landak, dan biawak.

Sejumlah satwa yang dilindungi dan relatif jarang terlihat, seperti binturong (Arctictis binturong), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), serta Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), juga pernah terpantau di kawasan tersebut.

Baca Juga: Bukan Lagi Penjaga, Kini Sang Pengemudi Kapal: Kisah Tiga Petugas Lapas Nusakambangan

Keberadaan berbagai jenis satwa ini menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian habitat di Nusakambangan. Perlindungan kawasan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan satu spesies, tetapi juga dengan ekosistem yang mendukung kehidupan berbagai satwa liar.

Di sisi lain, aktivitas proyek pembangunan di sejumlah lokasi di Pulau Nusakambangan berpotensi memengaruhi kondisi satwa liar dan habitatnya. Namun, BKSDA Jawa Tengah belum melakukan kajian terperinci untuk mengetahui besaran dampak pembangunan terhadap keberadaan maupun pergerakan satwa.

Wahyono mengatakan, pihaknya saat ini masih berfokus pada pemantauan di kawasan cagar alam sehingga belum dapat menjelaskan secara detail pengaruh aktivitas proyek terhadap satwa liar.

Kondisi tersebut membuat pemantauan dan kajian lebih lanjut menjadi penting untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi habitat serta kemungkinan perubahan pergerakan satwa di kawasan Nusakambangan.

Masyarakat diminta tidak mengganggu satwa liar

BKSDA Jawa Tengah mengimbau masyarakat, petugas lembaga pemasyarakatan, serta pekerja yang beraktivitas di Nusakambangan agar tidak mengganggu, menangkap, ataupun memburu satwa liar yang dijumpai.

Load More