- BMKG menyatakan wilayah pesisir Cilacap berpotensi menghadapi tsunami setinggi 15 meter dengan estimasi waktu tiba 43–45 menit setelah gempa.
- Plt Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati menyampaikan pentingnya edukasi dan pelatihan evakuasi berkala dalam pembukaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami di Cilacap pada Rabu (21/10/2026).
- Upaya mitigasi bencana diperkuat dengan pemasangan peralatan pemantau BMKG serta penyiapan jalur dan tempat evakuasi guna mengurangi korban jiwa serta kerugian materi.
SuaraJawaTengah.id - Warga pesisir Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, diminta selalu siap menghadapi potensi tsunami kapan pun terjadi. Kesiapsiagaan menjadi penting karena hasil pemodelan menunjukkan tsunami di wilayah tersebut berpotensi mencapai ketinggian 15 meter, dengan estimasi waktu tiba sekitar 43–45 menit setelah gempa bumi terjadi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa angka tersebut merupakan hasil pemodelan skenario bencana, bukan kepastian bahwa gempa bumi dan tsunami akan terjadi dalam waktu dekat.
Meski demikian, masyarakat tidak boleh menunggu bencana terjadi untuk mempelajari cara menyelamatkan diri. Pengetahuan tentang jalur evakuasi, lokasi aman, serta tindakan yang harus dilakukan setelah gempa menjadi bekal penting untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, mengatakan kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun sejak dini melalui edukasi dan latihan evakuasi secara berkala.
“Informasi ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini,” katanya dalam pembukaan kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami yang diselenggarakan BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara dikutip dari ANTARA di Cilacap, Rabu (21/10/2026).
Berdasarkan data pengamatan BMKG selama periode 2009 hingga Maret 2026, tercatat sekitar 1.801 kejadian gempa bumi di wilayah Cilacap. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 kejadian dirasakan oleh masyarakat.
Potensi ancaman gempa bumi di wilayah ini antara lain berkaitan dengan Sesar Ajibarang dan zona megathrust di selatan Jawa. Dalam pemodelan skenario terburuk, gempa bumi bermagnitudo hingga 9,1 pada segmen megathrust selatan Jawa menjadi salah satu skenario yang digunakan untuk mengkaji potensi tsunami di pesisir selatan.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan peringatan dari pemerintah. Masyarakat juga perlu memahami arah evakuasi dan mengetahui lokasi yang dapat dijangkau untuk menyelamatkan diri ketika terjadi keadaan darurat.
Ana menjelaskan, mitigasi tsunami perlu dilakukan melalui pengenalan potensi ancaman, pemetaan jalur evakuasi, penyiapan tempat evakuasi sementara, hingga pelaksanaan simulasi secara berkala.
Baca Juga: Bupati Nonaktif Cilacap Didakwa Minta Kepala OPD Kumpulkan Rp568 Juta untuk THR
BMKG juga mendorong pemerintah daerah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memasang dan melengkapi rambu-rambu jalur evakuasi di sepanjang akses penyelamatan masyarakat.
Menurut Ana, kesiapsiagaan juga harus mencakup perlindungan terhadap objek vital dan infrastruktur layanan publik, termasuk fasilitas energi serta penyediaan air bersih. Langkah ini diperlukan untuk mengurangi dampak bencana, baik terhadap keselamatan masyarakat maupun keberlangsungan layanan penting.
“Potensi bencana bukan cuma kepada masyarakat atau struktur bangunan, tetapi juga objek-objek vital. Kerugian bukan cuma soal korban jiwa, juga materi,” katanya.
Untuk mendukung pemantauan ancaman gempa bumi dan tsunami, BMKG telah memasang sejumlah peralatan operasional di wilayah Cilacap. Peralatan tersebut meliputi seismometer, akselerometer, intensitimeter, serta perangkat pendukung penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami.
Sistem peringatan juga didukung sirene tsunami di Pantai Jetis dan Kelurahan Tegalkamulyan. Selain itu, terdapat perangkat pengukur perubahan muka air laut di Pantai Jetis dan kawasan Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap.
Upaya peningkatan kesiapsiagaan tersebut diperkuat melalui kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi kebencanaan, mengikuti diskusi, serta menjalani simulasi gempa bumi di dalam ruangan dan latihan evakuasi dari pantai menuju lokasi aman.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai, Musyafirin Resmi Diusulkan Dipecat PDIP
- Survei Capres PPI: Prabowo Masih Perkasa, Anies Tempel Ketat, Gibran di Bawah AHY
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Kronologi Kader PDIP Musyafirin Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai Berujung Usulan Pemecatan
- 4 Shio Ini Diprediksi Panen Cuan dan Sukses Besar di Tahun Kambing Api 2027
Pilihan
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
Terkini
-
62 Pasangan Nikah Gratis di Jateng, Langsung Dapat Modal Usaha untuk Bangun Keluarga Sejahtera
-
Libatkan Ribuan Atlet, Porprov Jateng 2026 Jadi Angin Segar Bagi UMKM dan Perhotelan di 5 Daerah
-
BMKG Ingatkan Warga Cilacap Siaga Tsunami Kapan Pun, Gelombang Berpotensi 15 Meter
-
Rekam Jejak Eks Napiter Sutrisno: Terlibat Bom Thamrin, Bikin Onar di Lapas hingga Aniaya Sipir
-
Geger! Benda Mirip Granat Ditemukan di Keraton Solo, Gegana Sterilisasi 13 Titik