Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:49 WIB
Ilustrasi hujan lebat di malam hari. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Wilayah Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, diguyur hujan ekstrem mencapai 349 milimeter pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
  • Curah hujan ekstrem tersebut dipicu oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation di Samudra Hindia yang memengaruhi Pulau Jawa.
  • Peristiwa hujan lebat sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi tersebut memicu banjir dan tanah longsor.

SuaraJawaTengah.id - Hujan ekstrem dengan curah mencapai 349 milimeter mengguyur wilayah Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Intensitas hujan yang jauh melampaui ambang kategori ekstrem Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tersebut memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Cilacap dan Banyumas.

BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap mencatat curah hujan tertinggi mencapai 349 milimeter di Pos Pengamatan Jeruklegi/Jambusari berdasarkan pengamatan hingga Sabtu (31/10/2026) pagi.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem terpantau di sejumlah pos pengamatan hujan di Cilacap dan sekitarnya.

Selain Jeruklegi/Jambusari, curah hujan di Bandara Tunggul Wulung Cilacap mencapai 241 milimeter, Maos 196 milimeter, Rembang Purbalingga 158 milimeter, Dam Piasa Kulon Somagede Banyumas 141 milimeter, dan DPU Banyumas 138 milimeter.

Sementara itu, Rawalo Banyumas mencatat 117 milimeter, Jeruklegi Cilacap 107 milimeter, serta Dayeuhluhur Cilacap 79 milimeter.

BMKG mengategorikan hujan ringan pada kisaran 5–20 milimeter, sedang 20–50 milimeter, lebat 50–100 milimeter, sangat lebat 100–150 milimeter, dan ekstrem di atas 150 milimeter.

Artinya, curah hujan di Jeruklegi/Jambusari telah melampaui dua kali ambang batas kategori hujan ekstrem.

Teguh menjelaskan, tingginya curah hujan tersebut kemungkinan dipicu aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang turut memengaruhi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia.

Berdasarkan informasi dinamika atmosfer BMKG per 31 Oktober 2026, indeks Southern Oscillation Index (SOI) tercatat minus 14,5, indeks ENSO di Nino 3.4 sebesar plus 2,88, dan Dipole Mode Index (DMI) plus 0,69.

Baca Juga: Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Ketiga indikator tersebut dinyatakan tidak berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di wilayah Indonesia.

Sementara itu, MJO berada pada Fase 2 di Samudra Hindia yang secara umum kurang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di Indonesia. Namun, aktivitasnya secara spasial diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Jawa.

Dinamika atmosfer lainnya, seperti belokan angin dan daerah konvergensi, juga berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Hujan lebat hingga ekstrem yang terjadi sejak Jumat (30/10) malam hingga Sabtu (31/10) pagi telah mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas.

Teguh mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan banjir dan tanah longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak hujan lebat.

Load More