Ronald Seger Prabowo
Selasa, 03 November 2026 | 23:03 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya tiba di Taman Reptil Adiluhur, Kebumen, Jawa Tengah, Selasa (3/11/2026). [Suara.com/dok]
Baca 10 detik
  • Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengunjungi Taman Reptil Adiluhur, Kebumen, pada Selasa, 3 November 2026.
  • Guru SD Rytha dan periset kopi Totok membagikan kisah pengembangan UMKM lokal melalui konten digital serta kopi Liberika.
  • Kementerian Ekonomi Kreatif menggelar program Aktivasi Desa Kreatif untuk memperkuat kapasitas dan keterampilan masyarakat di Kebumen.

SuaraJawaTengah.id - Rytha Sariedova sedang berdiri di depan ruangan ketika Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya tiba di Taman Reptil Adiluhur, Kebumen, Jawa Tengah, Selasa (3/11/2026).

Mikrofon berada di tangannya. Begitu mengetahui sang menteri tiba, perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai guru sekolah dasar itu segera menyambutnya. Percakapan pun dimulai. Rytha bercerita tentang kegiatan workshop, para peserta yang hadir, hingga peluang menghasilkan uang dari aktivitas membuat konten di media sosial.

Ia kemudian memperkenalkan beberapa peserta yang telah merasakan hasil dari pekerjaan tersebut. Membuat konten digital telah menjadi jalan untuk memperoleh penghasilan, bahkan membuka peluang usaha baru. Mendengar cerita itu, Riefky menyimak satu per satu. Obrolan sesekali diselingi pertanyaan tentang bagaimana para peserta memulai, mengembangkan konten, hingga menemukan peluang komersial dari platform digital.

Rytha sendiri sudah cukup lama ngonten, karena melihat banyak usaha kecil di Kebumen belum mendapatkan perhatian cukup. Melalui akun TikTok bernama kebumsky, ia mencoba memperkenalkan warung makan, pedagang kaki lima, kedai kopi, hingga berbagai produk lokal yang layak dikenal lebih luas.

Mulanya, ia melakukannya tanpa bayaran. Ada kepuasan tersendiri ketika sebuah warung kecil mendapatkan pelanggan baru setelah videonya ditonton orang. Ia merekam makanan, menunjukkan lokasi berjualan, lalu mengunggahnya agar lebih banyak orang mengetahui keberadaan usaha tersebut.

“Dulu awal-awal bikin sama sekali enggak dibayar. Memang murni buat promosi UMKM. Sekarang lumayan, in this economy, sangat membantu,” katanya kepada Menteri Ekraf.

Namun, perlahan, kegiatan itu berkembang menjadi pekerjaan sampingan yang menghasilkan. Pakaian yang dikenakannya saat mengikuti workshop hari itu, misalnya, merupakan salah satu produk dari toko fesyen Kebumen yang bekerja sama dengannya.

Media sosial telah membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Ia bisa tetap menjalankan profesinya sebagai guru, sembari membantu memperkenalkan usaha masyarakat di sekitarnya. Apa yang dahulu dilakukan atas dasar kepedulian kini tumbuh menjadi sumber penghasilan sekaligus jaringan kerja baru.

Di Desa Adiluhur, Menteri Ekraf juga berbincang dengan Totok Waluyatmoko. Jika Rytha menggunakan kamera ponsel untuk memperkenalkan produk orang lain, Totok menghabiskan banyak waktunya untuk mengembangkan satu produk yang membuatnya jatuh hati: kopi Liberika.
Perjalanannya benar-benar dimulai dari nol. Totok sebelumnya menghabiskan masa produktif sebagai fotografer di Jakarta. Ia tidak memiliki latar belakang pertanian ataupun pengetahuan khusus tentang pengolahan kopi. Namun, rasa penasarannya membuat ia terus belajar.

Baca Juga: Dampingi Prabowo Panen Raya, Ahmad Luthfi Sebut Budidaya Udang Memiliki Prospek Bagus

Ia bahkan bersedia menempuh perjalanan hingga 45 kilometer untuk mendatangi kebun kopi di wilayah Kebumen Utara, sementara tempat tinggalnya berada di bagian selatan. Dari sana, ia mulai mempelajari karakter biji, proses pengolahan, fermentasi, hingga teknik pengeringan. Sejak 2023, ia juga melakukan riset kecil-kecilan untuk memahami persoalan yang membuat Liberika belum banyak berkembang.

“Effort-nya luar biasa karena saya tidak tahu kopi sama sekali,” ujar Totok.

Dari penelusurannya, ia menemukan bahwa Liberika menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Rendemen atau hasil biji kopi setelah pengolahan relatif lebih rendah dibandingkan Arabika dan Robusta. Masa tunggu panennya juga panjang, bisa lebih dari empat tahun. Kondisi itu membuat sebagian petani kurang tertarik membudidayakannya.

Totok pun menghadapi persoalan yang sama ketika mencoba mengembangkan usahanya. Keterbatasan bahan baku dan belum siapnya infrastruktur petani membuat rencana ekspor yang sempat ia jajaki harus ditunda. Ia akhirnya memilih membangun fondasi lebih dahulu, membina petani, dan memperbaiki standar pengolahan kopi.

Kualitas produk tidak bisa dibangun sendirian. Ada pekerjaan panjang yang harus dilakukan bersama petani, mulai dari memahami proses budidaya hingga memastikan setiap tahapan pengolahan dilakukan dengan benar.

Dua cerita itu memperlihatkan bagaimana ekonomi kreatif bisa tumbuh melalui jalan yang berbeda. Rytha mengandalkan kemampuan bercerita dan membaca peluang di ruang digital. Totok menekuni riset, pengolahan, dan pengembangan produk lokal. Keduanya berangkat dari rasa ingin tahu, lalu menemukan kemungkinan ekonomi dari sesuatu yang ada di sekitar mereka.

Load More