Ogah Sekolah, Siswi Korban Intimidasi di Sragen Akui Masih Trauma

Z dipanggil Kepala Sekolah untuk diberi pengarahan di hadapan para guru. Pada saat itulah, Z merasa takut dan sempat menangis.

Chandra Iswinarno
Senin, 13 Januari 2020 | 22:37 WIB
Ogah Sekolah, Siswi Korban Intimidasi di Sragen Akui Masih Trauma
Screenshoot percakapan oknum pengurus Rohis yang dianggap mengintimidasi siswa untuk berhijab. (Istimewa via Solopos)

SuaraJawaTengah.id - Buntut kasus intimidasi yang dialami siswi SMAN 1 Gemolong dari pihak pengurus Kerohanian Islam (Rohis) ternyata berpengaruh kepada psikologis Z (16). Siswi tersebut akhirnya memilih tidak bersekolah lantaran trauma.

Trauma tersebut diketahui terjadi setelah dilakukan mediasi antara orang tua dan pengurus Rohis pada Senin (6/1/2020) lalu. Saat itu Z berharap masalah sudah selesai. Namun saat kembali bersekolah pada Selasa (7/1/2020), Z dipanggil Kepala Sekolah untuk diberi pengarahan di hadapan para guru. Pada saat itulah, Z merasa takut dan sempat menangis.

“Saya tidak bisa berkata apa-apa dan hanya menangis. Lalu kepala sekolah menyuruh saya kembali ke kelas dan mengatakan kalau itu menjadi pelajaran untuk saya,” ujar Z dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Solopos.com-jaringan Suara.com pada Senin (13/1/2020).

Lantaran tidak nyaman di kelas, Z akhirnya meminta dijemput ayahnya AP. Namun, AP tidak bisa menjemput anaknya karena saat itu masih berada di Jogja. Akhirnya, pada keesokan harinya, Z tidak berani berangkat sekolah.

Baca Juga:Kasus Intimidasi Siswi Tak Berhijab di Sragen Dinyatakan Berakhir Damai

“Saya tanya kenapa tidak mau sekolah? Dia malah nangis di pojokan kamar. Sampai Senin [13/1/2020], anak saya masih takut berangkat sekolah. Saya sudah berusaha membujuknya, namun dia malah menangis karena takut,” ucap AP.

Ketika Z tidak berangkat sekolah, perwakilan SMAN 1 Gemolong mendatangi rumahnya di Kecamatan Miri pada Jumat (10/1/2020). Awalnya, AP mengira kedatangan mereka untuk memotivasi anaknya supaya berangkat sekolah lagi.

Namun, dia kecewa karena kedatangan pihak sekolah bermaksud untuk meminta tanda tangan surat pernyataan, bahwa masalah itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Bukannya ikut memotivasi supaya anak saya mau sekolah, malah meminta tanda tangan surat pernyataan. Saya tentu tidak mau, saya menolak tanda tangan surat pernyataan damai itu. Wong tidak ada perang kok tiba-tiba minta damai,” ujar AP.

Ditemui sebelumnya, Kepala SMAN 1 Gemolong Suparno, membenarkan telah bertemu Z setelah mediasi dan bermaksud memberikan dorongan motivasi. Namun saat itu, Suparno mengakui jika Z menandakan dirinya sedang tertekan.

Baca Juga:Siswi SMA 1 Gemolong Sragen Diteror Pengurus Rohis, Dipaksa Pakai Jilbab

“Setelah mediasi, saya menganggap masalah ini sudah selesai. Kami berharap Z bisa bersekolah lagi dengan nyaman. Namun, saya lihat wajahnya merah. Sepertinya dia masih merasa tertekan,” katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak