Seni Bundengan, Dari Caping Petani Jadi Alat Musik Unik Mirip Gamelan

Chandra Iswinarno
Seni Bundengan, Dari Caping Petani Jadi Alat Musik Unik Mirip Gamelan
Sejumlah siswi memainkan bundengan. [Suara.com/Khoirul]

Bundengan biasa digunakan petani zaman dahulu untuk melindungi tubuh dari sengatan panas matahari dan guyuran hujan.

SuaraJawaTengah.id - Sekilas bentuknya mirip tameng. Bagian atasnya menguncup, lalu ke bawahnya merekah lebar. Kerangkanya dari anyaman bilah bambu, dilapisi pelepah batang bambu atau clumpring.

Masyarakat Wonosobo Jawa Tengah menyebutnya bundengan. Alat itu mulanya memang berfungsi sebagai tameng. Tapi bukan untuk berlindung dari serangan senjata musuh. Namun, bundengan biasa digunakan petani zaman dahulu untuk melindungi tubuh dari sengatan panas matahari dan guyuran hujan.

Fungsinya mirip caping, namun bentuknya berbeda dan lebih lebar. Jika dikenakan, bukan hanya kepala yang tertutup, namun juga anggota tubuh di bawahnya ikut terlindungi. Menariknya, bundengan bukan sekadar pelindung tubuh dari terik dan hujan. Ia sekaligus alat musik yang menghasilkan bunyi khas mirip gamelan.

Seniman yang memopulerkan bundengan asal Kabupaten Wonosobo Mulyani mengatakan, dahulu, di sela-sela aktivitas bertani atau tengah istirahat, petani biasa mengisinya dengan memainkan bundengan.

"Dulu dipakai petani untuk penutup kepala, saya menemukannya ada di beberapa daerah di Wonosobo,"katanya

Bundengan muncul di tengah kehidupan masyarakat agraris. Sayangnya, semakin lama, tradisi itu kian ditinggalkan hingga kini nyaris punah. Pemain bundengan yang masih ingin melestarikannya pun tinggal segelintir orang.

Kini, mungkin sudah sulit menemukan petani yang mengenakan bundengan di ladang. Alat itu bukannya punah. Seni bundengan kini mulai dihidupkan lagi, namun lebih difungsikan sebagai alat musik untuk mengiringi seni tari.

Mulyani menjadi satu di antara seniman di Kabupaten Wonosobo yang memopulerkan kembali alat musik tradisional itu. Ia yang juga guru di SMPN 2 Selomerto Wonosobo mengenalkan kesenian itu ke para siswanya.

Mulanya, seni bundengan hanya menjadi kegiatan ekstra di sekolah itu. Namun dalam perkembangannya, pihak sekolah memasukkan kesenian itu dalam kurikulum yang diujikan.

"Satu-satunya sekolah di Wonosobo baru sini yang memasukkan bundengan dalam pembelajaran," katanya.

Puluhan bundengan menyesaki sebuah ruang ekspresi di sudut sekolah itu. Ada beberapa yang berukuran cukup besar dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Kebanyakan berukuran kecil sekitar 0,5 meter. Saat pembelajaran ekstra dimulai, mereka memainkannya bersama sembari menyanyikan lagu Jawa maupun kontemporer.

Mulyani bersama siswanya di SMPN 2 Selomerto Wonosobo memainkan bundengan. [Suara.com/Khoirul]
Mulyani bersama siswanya di SMPN 2 Selomerto Wonosobo memainkan bundengan. [Suara.com/Khoirul]

Mulyani mengatakan, bundengan kini sudah mengalami perkembangan atau modifikasi tanpa mengurangi kekhasannya. Jika dulu tali petikan untuk menghasilkan nada menggunakan ijuk, kini telah dimodifikasi menggunakan senar raket.

Kerangka bundengan pun dibuat lebih rapat menggunakan bambu wulung. Pelapisnya menggunakan pelepah batang bambu atau clumpring.

Mulyani mengatakan, dibanding alat musik lain, bundengan memiliki kekhasan tersendiri. Alat itu bisa menghasilkan nada yang menggabungkan beberapa instrumen gamelan. Karenanya, bundengan cukup dimainkan oleh pemain tunggal tanpa diiringi alat musik lain.

Penyanyi atau sinden membawakan lagu dengan iringan musik itu. Tembang dengan musik bundengan itu biasa untuk mengiringi tarian tradisional seperti tari topeng lengger.

"Pemainnya sudah jarang sekali, makanya saya kenalkan ini di sekolah maupun lewat perform di festival," katanya.

Kontributor : Khoirul

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS