Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Begini Respons Keluarga 5 ABK yang Jenazahnya Disimpan di Freezer

Muhammad Taufiq Minggu, 20 September 2020 | 16:15 WIB

Begini Respons Keluarga 5 ABK yang Jenazahnya Disimpan di Freezer
Warga menggotong peti berisi jenazah ABK KM Starindo Jaya Maju VI saat tiba di Kota Pekalongan, Sabtu dini hari (19/9/2020). (Suara.com/F. Firdaus)

Lima jenazah itu tewas karena menenggak minuman keras oplosan di kapal

SuaraJawaTengah.id - Keluarga lima anak buah kapal (ABK) asal Pekalongan yang ditemukan tewas dalam mesin pendingin (freezer) kapal pencari ikan KM Starindo Jaya Maju VI menanti keputusan dari pemilik kapal terkait peristiwa tragis yang menimpa anggota keluarga mereka.

Jenazah lima ABK yang tewas mengenaskan tersebut sudah dibawa ke kampung halamannya di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Sabtu dini hari (19/9/2020) setelah terkatung-katung selama beberapa hari di laut.

Kelima jenazah ABK yang sudah dipastikan meninggal karena menenggak miras oplosan itu langsung dimakamkan pihak keluarga tak lama setelah tiba di Pekalongan sekitar pukul 02.30 WIB.

Dari lima jenazah, empat di antaranya merupakan warga Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Terdiri dari Putra Pradana (19), Miftahul Huda (21), M Zulkarnain (24) dan M Son Haji (27).

Adapun satu jenazah lainnya yakni Khoirul Muttaqin (24) dibawa ke tempat asalnya di Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan.

Kedatangan lima jenazah itu disambut isak tangis keluarga masing-masing begitu tiba di rumah duka. Jenazah kemudian dikebumikan di tempat pemakaman umum setempat di waktu yang berbeda yakni sekitar pukul 06.00 WIB dan 07.00 WIB.

Kakak ABK Miftahul Huda, Sriatun mengatakan, keluarga sudah ikhlas dengan meninggalnya sang adik. "Sekarang sudah lega karena sudah dimakamkan setelah 10 hari berada di laut," kata Sriatun usai pemakaman.

Dia mengungkapkan, Miftahul Huda berangkat melaut dua bulan lalu setelah lama menganggur di rumah akibat pandemi Covid-19. "Keluarga tidak menyangka dan sempat tidak percaya kalau adik saya meninggal," ucapnya.

Menurut Sriatun, keluarga kini menunggu keputusan dari pemilik kapal yang ada di Jakarta terkait pertanggungjawaban atas nasib yang dialami adiknya. "Kami cuma bisa menunggu keputusan pemilik kapal seperti apa," ucapnya.

Keluarga ABK lainnya, Sumirah mengungkapkan, keluarga pertama kali mendapat kabar jika keluarganya meninggal di kapal dari perusahaan kapal tempatnya bekerja pada Kamis (17/9/2020).

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait