Kisah Pelarian Sumini Ketika Dikepung Massa Aksi Pada Tragedi 1965

Dituduh ikut menyiksa para jendral, Sumini dijebloskan ke penjara selama enam tahun

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 30 September 2020 | 09:19 WIB
Kisah Pelarian Sumini Ketika Dikepung Massa Aksi Pada Tragedi 1965
Sumini (74) korban 65 di Kabupaten Pati (Suara.com/Dafi Yusuf) 

SuaraJawaTengah.id - "Gerwani lonte, hancurkan Gerwani dan gantung Aidit" yel-yel tersebut yang didengar Sumini, 74, korban G30S PKI yang saat itu sedang menempuh pendidikan tinggi di Institute Pertanian Gerakan Tani (IPGT) Bogor. 

Saat itu sekelompok aksi sedang mengepung kampus Sumini. Sekelompok aksi tersebut tak hanya  merusak kampus, namun juga menjarah buku, mesin ketik dan kasur milik mahasiswa. 

"Mereka itu bukan massa aksi demo namun rampok," jelasnya saat ditemui Suara.com, Senin (28/9/2020). 

Saat itu, kondisi di kampusnya begitu buruk. Bahkan hampir semua mahasiswa panik. Hal itu membuat rektor IPGT Bogor terpaksa memulangkan mahasiswa ke rumah masing-masing karena kondisi yang semakin buruk. 

Baca Juga:Daerah Rawan Corona, Polres Magelang Raya Tak Izinkan Nobar Film G30S/PKI

"Nanti kalau sudah kembali normal, kalian boleh kembali lagi ke sini," ucap Sumini menirukan pesan rektor. 

Ketika perjalanan pulang, di sepanjang jalan menuju ke Kabupaten Pati ia melihat banyak penjarahan, bahkan beberapa rumah juga dibakar. Selain itu, juga banyak orang yang diseret-seret dan disiksa. 

"Saat perjalanan pulang saya melihat keadaan sudah parah. Saya melihat beberapa orang diseret-seret dan dibunuh," ujarnya. 

Namun, betapa terkejutnya, ketika ia sampai di kampung halaman. Ternyata puluhan kelompok massa sudah mengepung rumah Sumini. Beberapa massa menuduh Sumini yang mencungkil mata para jendral di lubang buaya.

"Sampai akhirnya, saya diamankan oleh ayahnya. Saya diberi uang Rp5 ribu untuk kabur dari rumah," ingatnya. 

Baca Juga:FPI Akan Gelar Nobar Film G30S PKI, Catat Lokasinya!

Selama berminggu-minggu Sumini melakukan pelarian tanpa tujuan. Perasaan Sumini semakin nelangsa lantaran uang yang diberikan ayahnya sudah habis untuk perjalanan dan makan. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini