facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Duh! Konsumsi Berita Negatif Bisa Picu Terjadinya Bunuh Diri

Budi Arista Romadhoni Kamis, 08 Oktober 2020 | 19:05 WIB

Duh! Konsumsi Berita Negatif Bisa Picu Terjadinya Bunuh Diri
Ilustrasi bunuh diri. (Shutterstock)

Berita negatif di Media Massa dan Media Sosial bisa menjadi pemicu orang ingin melakukan bunuh diri

SuaraJawaTengah.id - Media sosial saat ini memang menjadi gaya hidup dari masyarakat. Dari Medsos mereka bisa melakukan apa aja, mulai dari yang positif hingga negatif. 

Bagi yang tidak kuat, medsos juga kadang bisa menjerumuskan si pengguna. 

Salah satunya bunuh diri. Ada beberapa faktor yang bisa membuat seseorang memutuskan untuk menghilangkan nyawanya sendiri, salah satunya terinspirasi metode orang lain yang dipaparkan media massa secara detail.

Terkait ini, founder & Adviser of Into The Light, Benny Prawira Siawu menyarankan, media massa sebaiknya menghindari menyebutkan metode ditambah sebab tunggal dalam pemberitaan kasus bunuh diri.

Baca Juga: Mahasiswa Kerjakan Tugas saat Demo, Netizen: Amanah Rakyat dan Orangtua

"Metode (bunuh diri) dan sebab tunggal harus dihindari. Metode bisa memberikan inspirasi harus dihindari, sementara (informasi yang hanya mengungkapkan) sebab tunggal bisa menyebabkan orang yang depresi atau tertekan karena hal sama bisa merasa bunuh diri sebagai jalan keluar yang sama," kata dia dalam media workshop "Panduan Pemberitaan Bunuh Diri dan Kesehatan Mental" yang digelar daring, Kamis (8/10/2020). 

Pemberitaan bunuh diri aktor Robin Williams pada tahun 2014 bisa menjadi contoh.

Research Scientist, Facebook, Moira Burke, menuturkan, hasil studi yang yang dia lakukan bersama tim dalam jurnal "National Academy od Sciences" pada Juli lalu mengungkapkan, kasus bunuh diri meningkat 10 persen dalam lima bulan di Amerika Serikat setelah pemberitaan bunuh diri Robin.

Selain itu, dia dan tim juga menemukan ada peningkatan 32 persen kasus bunuh diri menggunakan metode yang sama dengan sang aktor.  

Burke mencatat, sekitar 60 persen yang dia teliti (1.000 artikel berbahasa Inggris terkait bunuh diri yang paling banyak dibagikan) tidak menyertakan informasi yang melindungi seperti pencegahan bunuh diri dan bantuan terkait kesehatan mental.

Baca Juga: Ramai Warganet Ingin Pindah Negara, Foto Motor Khas WNI di Salju Viral

Mayoritas isi artikel justru membeberkan elemen berbahaya seperti metode bunuh diri, lokasi, isi surat bunuh diri, informasi pribadi tentang orang yang sudah meninggal, membuat pemberitaan yang sensasional, menyederhanakan alasan bunuh diri seseorang dan memberikan kesan bahwa tindakan bunuh bisa dibenarkan.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait