Sitras kemudian menyebut nama Mbah Gini, warga Dusun Ngentak, Desa Sumber, Dukun yang juga memiliki kepekaan dapat ‘berkomunikasi’ dengan Mbah Petruk.
“Ada yang tanya Mbah Petruk, Mbah Gini ngendiko (bilang) kalau ditunggu sampai tanggal 29. Kalau nggak apa-apa ya kita nggak apa. Tapi ditunggu sampai (tanggal) itu.”
Ditemui di rumahnya, Mbah Gini tidak banyak berbicara. Kami lebih banyak ngobrol dengan menantunya, Sarpono (56 tahun) yang sering dipercaya Mbah Gini untuk menerima para tamu.
“Hanya yang dialami bapak itu jika Merapi akan ‘bekerja’ jika kira-kira berbahaya, kita disuruh menyingkir,” kata Sarpono.
Baca Juga:Lihat Merapi Pakai Helikopter Pelajari Potensi Erupsi dan Dampaknya

“Pesannya Mbah Gini ‘nggak usah takut’, lha wong Merapi nggak akan geger. Bapak bilang, sekarang kan situasinya jelas.”
Mbah Gini memiliki nama lengkap Karyo Rejo. Nama Gini diambil dari nama putri pertamanya.
Menurut Sarpono, Mbah Gini lahir tahun 1916. Kakek berusia 104 tahun itu telah melalui banyak peristiwa letusan Gunung Merapi.
“Sekarang baru ngebul sedikit saja dibilang meletus. Jadi kalau seumpama (nanti) ngebul ya cuma kelihatan sedikit-sedikit. Bapak tidak bilang kalau akan geger. Merapi itu kalau mau mengeluarkan lahar, sedikit atau banyak pasti memberi tahu,” kata Sarpano.
Menurut Mbah Gini, warga baiknya menurut pada instruksi pemerintah untuk bersiaga, tapi tidak panik. Ilmu pengetahuan dan peralatan canggih yang dimiliki pemerintah untuk mengawasi kondisi Merapi sudah mumpuni.
Baca Juga:Pos Pantau Gunung Merapi Balerante: Kemarin Pagi Terdengar Gemuruh
Pendapat ini diamini Sitras Anjilin yang meminta warga patuh pada instruksi pemerintah. Tugas warga hanya menyiapkan segala sesuatu jika mendapat perintah evakuasi.