Awas! Kelompok Teroris JI Masih Ada, Rekrutmen Dibiayai 6.000 Anggota Aktif

Dari tempat pelatihan yang ditemukan sudah menghasilkan tujuh angkatan yang terdiri dari 96 orang, sebanyak 66 orang berangkat ke Suriah untuk menjadi kombatan

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 29 Desember 2020 | 12:34 WIB
Awas! Kelompok Teroris JI Masih Ada, Rekrutmen Dibiayai 6.000 Anggota Aktif
Ilustrasi terorisme. [Shutterstock]

SuaraJawaTengah.id - Jaringan kelompok teroris di Indonesia rupanya tak ada habisnya. Meskipun sudah dilakukan penangkapan hingga hukuma mati, teroris terus hadir di tengah-tengah masyarakat. 

Menanggapi hal itu, Kementerian Agama meminta masyarakat untuk aktif melaporkan kegiatan keagamaan di luar kebiasaan, menyusul pengungkapan 12 tempat pelatihan kelompok Jemaah Islamiyah di Jawa Tengah.

Polisi menyebut anggota pelatihan direkrut dari pondok pesentren sejak 2011 dengan kegiatan yang didanai sekitar 6.000 anggota aktif JI.

Peneliti terorisme mengatakan pemerintah perlu mewaspadai ancaman JI, dengan keanggotaan yang meningkat sekitar tiga kali lipat dalam 20 tahun terakhir.

Baca Juga:Mabes Polri: Ada 12 Lokasi Jateng Tempat Latihan Militer Teroris JI

Rekrutmen ketat anggota

Salah satu strategi yang dilakukan JI - kelompok yang bertanggung jawab atas serangkaian pemboman di Indonesia - adalah dengan merekrut secara ketat para anggota, menurut laporan kepolisian.

Hal ini dijelaskan kepolisian menyusul terungkapnya 12 tempat pelatihan kelompok JI di Jawa Tengah, salah satunya di daerah Ungaran, Semarang.

JI bertanggung jawab atas berbagai serangan bom pada sekitar tahun 2000-an, termasuk serangan-serangan di Jakarta serta bom Bali 1, serangan teroris terparah di Indonesia.

Melalui pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang sudah ditangkap, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan skema perekrutan ketat yang dilakukan kelompok itu sejak tahun 2011.

Baca Juga:Vila Tempat Teroris Berlatih Menembah di Semarang Ternyata Angker

"Dia punya jaringan ponpes, jaringan JI yang kemudian diambil 10 besar (murid) itu, kemudian direkrut. Tidak semua 10 besar itu direkrut, tapi ada yang dipilih, dilihat bagaimana mentalnya, bagaimana posturnya, dan bagaimana ideologinya," kata Argo dalam konferensi pers (28/12).

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini