"Tempat untuk mengaji anak-anak kan dipindah, nah pakainya Alquran yang selamat itu. Alhamdulillah Alquran itu tak ikut tenggelam," ujarnya.
Selain itu, dia juga sudah sedikit lega karena istri dan keempat anaknya sudah berhasil diungsikan ke sebuah tempat yang lebih aman.
Dia juga merasa terharu karena banyak warga yang membantu untuk membangun rumahnya. Rencanya, rumah Ahmad akan dibangun dua tingkat.
Untuk lantai bawah, dia akan gunakan sebagai kelas untuk mengajar anak-anak yang ingin ngaji. Sementara, untuk lantai atas akan dia manfaatkan untuk istirahat keluarganya.
Baca Juga:PSIS Resmi Pinjamkan Satu Pemainnya ke Tim Elit Timor Leste
"Rencanya akan dibuat dua lantai rumah ini," ucapnya.
Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang, Amron S menjelaskan, sejak akhir Desember 2020 hingga sekarang, kawasan kampung Tambak Lorok sering dihantam ombak setinggi 3 meter.
Hal itu dikarenak cuaca ekstrem dan talut yang rusak. Permasalahan tersbut, membuat ombak yang dari tengah laut tak ada dinding pembatas sehingga langsung menghantam rumah-rumah warga.
"Sebenarnya, juga ada 14 rumah lain yang saat ini masih terancam," jelasnya
Kejadian itu biasanya terjadi pada malam hari pukul 20.00 hingga dini hari sekira pukul 02.00. Untuk jaga-jaga dia saering tak bisa tidur karena kepikiran ombak yang sewaktu-waktu dapat mengancam nyawa warga.
Baca Juga:Distrik Pecinan dan Kisah Awalmula Orang China Berkumpul di Semarang
"Saya kalau malam sering tak tidur, muter terus,"ujarnya.