facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kena PHK Karena Pandemi Covid-19, Kini Najib Sukses Jualan Hiasan Dinding

Budi Arista Romadhoni Kamis, 01 April 2021 | 11:29 WIB

Kena PHK Karena Pandemi Covid-19, Kini Najib Sukses Jualan Hiasan Dinding
M Syafiun Najib saat menata hiasan dinding miliknya. Ia adalah korban PHK di awal Pandemi Covid-19 (suara.com/DafiYusuf)

Korban pandemi Covid-19 memang bukan dari kesehatan saja, tapi juga dari sektor ekonomi dan pekerja yang mengakibatkan banyak PHK

SuaraJawaTengah.id - 'Badai pasti berlalu' itulah kata-kata yang dipegang M Syafiun Najib penjual hiasan dinding di Kota Semarang. Satu tahuh terakhir dia sempat kalut, kaget karena terkena badai PHK di perusahaannya.

Bulan pertama pandemi Covid-19 dia di-PHK, Najib sempat bingung. Tabungannya terkuras habis untuk biaya operasional selama bulan Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri tahun 2020 yang lalu.

Tak ada hujan tak ada badai, tiba-tiba dia dipecat begitu saja dengan alasan pandemi. Hal itulah yang membuatnya kaget dan tak mempunyai persiapan.

"Waktu itu hampir 50 persen pekerja di perusahaan saya diPHK karena pandemi. Saya sendiri tak menyangka hal itu. Uang sudah habis untuk keluarga," jelasnya saat ditemui di tokonya Ngaliyan, Kota Semarang, Kamis (1/4/2021).

Baca Juga: Resiliensi Diri Disebut Jadi Kunci Sukses, Apa dan Bagaimana Bentuknya?

Hal itu  tak membuat Najib lantas putus asa dan berserah. Beberapa bulan dia sempat kalut, akhirnya dia bangkit dan memutuskan untuk berbisnis hiasan dinding yang saat ini sudah terjual hingga luar daerah.

"Akhirnya saya memutuskan untuk berbisnis hiasan dinding ," ujarnya.

Sebenarnya, bisnis hiasan dinding sudah dia lakoni sejak mahasiswa namun berhenti karena bekerja di perusahaa. Selain itu, saat itu dia mengaku tak serius berbisnis. Dia hanya mengisi waktu luang selama menjadi mahasiswa di UIN Walisongo Semarang.

"Sejak mahasiswa saya berbisnis hiasan dinding namun tak serius. Setelah kena PHK baru serius," ucapnya.

Sampai saat ini, bisnis hiasan dinding yang dia geluti omestnya sudah mencapai puluhan juta dalam satu bulan. Penghasilannya kini lebih besar ketika dia mashig menjadi pekerja kantoran.

Baca Juga: Miris! Pandemi Sudah Setahun, Kebiasaan Cuci Tangan Indonesia Masih Rendah

"Dalam satu bulan bisa sampai Rp15 juta hingga Rp20 juta," paparnya.  

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait