Kisah Kopi Kuno Kota Semarang yang Bikin Pemiliknya Jadi Konglomerat

Kota Semarang memiliki banyak cerita sejarah, salah satunya adalah kopi kuno ini

Budi Arista Romadhoni
Senin, 16 Agustus 2021 | 20:30 WIB
Kisah Kopi Kuno Kota Semarang yang Bikin Pemiliknya Jadi Konglomerat
Widayat Basuki Dharmowiyono, generasi ketiga dari pemilik kopi Margo Redjo yang saat ini lebih dikenal dengan Dharma Boutique Roastery. [Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa]

Saat mukim di Bandung, Tan Tiong Ie tidak bertahan lama. Dia tidak tega meninggalkan ibunya di Semarang. Lantas dia pulang kampung seraya membawa alat produksi kopi ke Kota Atlas ini.

Semarang Bikin Sukses

Di Semarang, rezeki Tan Tiong Ie ternyata bermekaran. Produk kopi Margo Redjo laris manis dan bisa dikatakan Semarang benar-benar jadi ‘jalan kemakmuran’ untuk Tan Tiong Ie.

Karena laris tadi, Tan akhirnya juga meningkatkan produksi. Bahkan dia harus menambah pegawai. Halaman belakang rumahnya pun sesak oleh aktivitas pabrik. Kunci sukses larisnya usaha kopi dari Tan ini juga karena strategi yang jitu.

Baca Juga:Ganjar Pranowo Gagas Tanjung Emas Jadi Pelabuhan Hortikultura

Dalam disertasi Alexander Claver di Vrije Universiteit, Belanda yang berjudul "Dutch Commerce and Chinese Merchants in Java: Colonial Relationships in Trade and Finance, 1800-1942 (2014)", strategi marketing Margo Redjo memang mantap.

Sosok yang berperan adalah Tan Liang Hoo, anak dari Tiang Tiong Ie yang menjadi "motor penggerak" pabrik.

Kata Claver, Tan Liang Hoo punya ketertarikan besar pada produksi dan teknik pemasaran. Paman Basuki ini memiliki cakrawala luas dalam mengikuti informasi terkini. Dia juga memiliki ide cemerlang untuk memasarkan produk.

Dalam gerak usaha kopinya, Tan Liang Hoo punya peran sebagai copywriter pada desain iklan, flyer, dan poster Margo Redjo. Promosinya pun cukup gencar, baik melalui pemasangan iklan di koran, ikut pameran atau memberi bonus.

Basuki kemudian memaparkan di puncak kejayaannya pada 1930, Margo Redjo bahkan sampai punya beberapa produk dan variasi harga.

Baca Juga:Mahasiswa KKN UIN Walisongo Menerima 50 Bibit Pohon dari DLH Kota Semarang

“Yang paling murah, Tjap Grobak Idjo dan yang paling mahal, Tjap Margo Redjo. Di antara keduanya ada Tjap Pisau, Tjap Orang-Matjoel, Koffie Sentoso, Koffie Mirama, dan Koffie Sari Roso,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini