facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Menerima Perlakuan Kekerasan, Guru Besar Al Azhar Mesir Ini Memilih Murtad

Budi Arista Romadhoni Minggu, 03 Oktober 2021 | 14:53 WIB

Menerima Perlakuan Kekerasan, Guru Besar Al Azhar Mesir Ini Memilih Murtad
Ilustrasi agama. Guru besar Al Azhar Mesir menerima perlakuan yang tidak mengenakan, ia pun akhirnya keluar dari islam atau murtad. (Shutterstock)

Guru besar Al Azhar Mesir menerima perlakuan yang tidak mengenakan, ia pun akhirnya keluar dari islam atau murtad

SuaraJawaTengah.id - Memilih agama menjadi hak setiap orang. Apalagi memutuskan pindah agama, hal itu pasti bukan tanpa alasan. 

Seperti yang dilakukan seorang guru besar di Universitas Al Azhar di Kota Kairo Mesir. Ia memilih pindah agama atau murtad

Menyadur dari Terkini.id, dia adalah Dr Mustafa yang kini dikenal dengan nama Mark Gabriel. Padahal ia tumbuh di lingkungan dan budaya muslim yang ramah sebelum memutuskan pindah agama pada tahun 1994. Pria kelahiran Kairo 30 Desember 1957 ini, mulai jauh dari Islam kala mengunjungi beberapa negara Barat dan Timur.

Di negera yang ia kunjungi tersebut, Mark mendapatkan fakta beberapa pemimpin Islam yang justru mengajarkan kekerasan pada pengikutnya. Kemudian, Mark lalu kembali ke Al-Azhar dan pihak universitas itu mendengar kesalahpahamannya soal Islam.

Baca Juga: Dituding Murtad Usai Cerai, Larissa Chou Bantah Masuk Islam Demi Alvin Faiz

Akhirnya, Mark pun dikeluarkan dari universitas lalu ditangkap dan dibiarkan kelaparan selama tiga hari. Setelah mendapat perlakuan tidak mengenakkan itu, Mark pun dilepas tanpa pengadilan apapun.

Adanya kejadian tersebut, membuat Mark semakin kehilangan keyakinan karena tidak menemukan kedamaian dari Islam dan memutuskan untuk murtad.

Bukan hanya Dr Mustafa yang memutuskan untuk berpindah, sebelumnya ada juga tiga ulama besar yang melakukan hal yang sama. Ulama tersebut adalah Imad Uddin Lahiz, ulama paling tersohor kelahiran India, yang mulai tertarik pindah agama setelah adanya perdebatan besar di Kota Agra pada 1854. 

Lalu, ada Khalif Majid Hassan, seorang mantan petinggi Perserikatan Islam di Inggris pada tahun 1974. Ia membaca Al-Quran dan buku-buku Islam. Keyakinannya berkurang saat ia membandingkan isi buku yang tak sepenuhnya sama seperti yang diajarkan Nabi.

Terakhir adalah Hajji Husman Mohamed memilih meninggalkan keyakinannya sebagai muslim pada tahun 2003, lantaran mendapat lingkungan yang tidak baik di Ethiopia sejak kecil.

Baca Juga: Hukum Murtad dan Kembali Masuk Islam, Begini Menurut Imam Syafi'i serta Hanafi dan Maliki

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait