alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Wisata Lesu,Wastafeluntuk Cuci Tangan Selamatkan Ekonomi Perajin Gerabah Klipoh Magelang

Budi Arista Romadhoni Rabu, 13 Oktober 2021 | 08:07 WIB

Wisata Lesu,Wastafeluntuk Cuci Tangan Selamatkan Ekonomi Perajin Gerabah Klipoh Magelang
Ketua Kelompok Kerajinan Gerabah Klipoh, Supoyo, membuat gerabah di Balkondes Karanganyar, Magelang, Selasa (12/10/2021). [Suara.com/Angga Haksoro]

Di tengah terpuruknya pariwisata, namun ternyata ada hikmahnya, seperti perajin gerabah di Magelang ini

SuaraJawaTengah.id - Siapa yang menduga wastafel dan padasan menjadi penyelamat ekonomi perajin gerabah di Dusun Klipoh, Kecamatan Borobudur. Pesanan gerabah umumnya turun drastis selama pandemi.

Tidak seperti jenis kerajinan gerabah lainnya, jumlah permintaan wastafel dan padasan (wadah air untuk wudhu atau mencuci tangan) justru meningkat.

Menurut Ketua Kelompok Kerajinan Gerabah Klipoh, Supoyo, permintaan gerabah wastafel dan padasan naik sekitar 3 kali lipat dibandingkan sebelum pandemi.

Permintaan meningkat, sebab di masa pandemi kebutuhan tempat cuci tangan bertambah. wastafel kebanyakan dipesan galeri seni, sekolah, dan rumah makan.

Baca Juga: Unik! 5 Alat Rumah Tangga dari Gerabah, Kini Jadi Pajangan

“Ketika ada pandemi, dianjurkan untuk selalu bersih (cuci tangan). Kerajinan gerabah padasan dan wastafel yang dulunya mulai punah, saat pandemi justru meningkat.

Dulu Supoyo yang juga pemilik Gerabah Arum Art hanya menyediakan 10 hingga 20 gerabah wastafel. Tapi karena permintaan meningkat, dia menyiapkan 50-80 wastafel dan padasan untuk memenuhi permintaan.

Gerabah untuk wastafel dan padasan dijual dengan harga bervariasi antara Rp 50 ribu hingga Rp 250 ribu. “Konsumenya rata-rata yang punya galeri. Kemudian sekolah-sekolah. Ada juga yang punya rumah makan.”

Kerajinan gerabah di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, dijalankan secara turun temurun.

Warga setempat meyakini, kerajinan gerabah di Dusun Klipoh diperkirakan sudah ada pada masa pembangunan Candi Borobudur sekitar abad ke-8. “Disamping kami punya sejarah sendiri, (kerajinan grabah) untuk masyarakat Klipoh menjadi tulang punggung untuk mencari ekonomi,” ujar Supoyo.

Baca Juga: Jangan Salah Lagi! Ini Beda Tembikar dan Gerabah

Meski masih perlu pembuktian ilmiah, relief alat-alat masak berbahan tanah liat di dinding Candi Borobudur, diduga menggambarkan gerabah buatan warga dusun Klipoh kuno.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait