facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Menguak Tradisi Warga Tionghoa di Semarang Terbangkan Burung Pipit di Klenteng Jelang Imlek

Ronald Seger Prabowo Kamis, 20 Januari 2022 | 18:00 WIB

Menguak Tradisi Warga Tionghoa di Semarang Terbangkan Burung Pipit di Klenteng Jelang Imlek
Salah satu warga Tionghoa melepaskan burung pipit. [Suara.com/Dafi Yusuf]

Banyak warga Tionghoa yang membeli burung pipit untuk membuang sial.

SuaraJawaTengah.id - Jelang perayaan Imlek 2022, penjual burung pipit di Pecinan, Kota Semarang banyak diburu pengunjung di Klenteng Tay Kak Sie. 

Biasanya, usai melakukan kegiatan sembahyang sejumlah warga Tionghoa menerbangkan burung pipit di dekat klenteng. Hal itu sudah menjadi tradisi. 

Salah satu penjual burung pipit di Kelenteng Tay Kak Sie, Wasit mengatakan, biasanya banyak warga Tionghoa yang membeli burung pipit untuk membuang sial. 

"Biasanya setelah sembahyang, ada yang beli burung pipit untuk dilepaskan, l" jelasnya, Kamis (20/1/2022). 

Baca Juga: Apa Hukum Mengucapkan Selamat Imlek dalam Islam? Ini Jawaban Buya Yahya, Simak Baik-baik!

Wasito mengaku telah berjualan burung pipit selama kurang lebih 4 tahun menggantikan orang tuanya. Pasalnya, bisnis jual burung pipit sudah turun-temurun dari keluarga. 

"Ini meneruskan usaha bapak saya," katanya. 

Dia menjual burung pipit jenis peking. Menurutnya, jenis burung tersebut masih mudah didapat dan relatif murah untuk didapat. Biasnya dia membeli burung pipit dari Pati. 

"Burung jenis itu dari temannya yang mengirimkannya dari Pati," ujar dia.

Satu ekor burung pipit dia bandrol Rp2 ribu. Rata-rata warga Tionghoa membeli satu kandang.

Baca Juga: Selain Dikenal sebagai Klenteng Besar di Semarang, Tay Kak Sie Ternyata Mempunyai Sumur Langit

Menurutnya, orang Tionghoa kalau nggak ngelepas burung, ikan, dan hewan lain yang bisa di bebas liarkan. 

"Jadi pipit peking ini kan masih mudah dicari dan harganya memang relatif murah," imbuhnya.

Lebih lanjut, Wasito menerangkan, dalam membeli burung pipit untuk dibebas liarkan, biasa warga Tionghoa membelinya berpatokan dengan beberapa hal. Salah satunya umur.

Semisal warga Tionghoa tersebut berumur 30 tahun, biasanya akan beli sebanyak umurnya tapi dilebihkan. 

"Jadi 30 bisa ditambah 3 jadi 33 burung dibeli lalu dilepaskan," terangnya.

Dalam satu hari saja dia bisa untung ratusan ribu dari jualan burung tersebut. Namun, tak jarang juga dia terpaksa pulang dengan tangan hampa karena pembeli sepi. 

"Pendapatan sekitar Rp130 ribu sudah banyak bagi saya," pungkasnya.

Kontributor : Dafi Yusuf

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait