facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Imbas Perang Rusia dan Ukraina Harga Minyak Dunia Tembus US$ 105 Per Barrel, Pengamat: Momentum Menghapus BBM Premium

Budi Arista Romadhoni Rabu, 02 Maret 2022 | 17:45 WIB

Imbas Perang Rusia dan Ukraina Harga Minyak Dunia Tembus US$ 105 Per Barrel, Pengamat: Momentum Menghapus BBM Premium
Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. Kenaikan harga minyak dunia kini menembus angka US$ 105 per barrel akibat perang antara Rusia vs Ukraina. (Shutterstock)

Kenaikan harga minyak dunia kini menembus angka US$ 105 per barrel akibat perang antara Rusia vs Ukraina

SuaraJawaTengah.id - Perang Rusia dan Ukraian memberikan dampak ekonomi terhadap dunia. Termasuk kenaikan harga minyak dunia yang mengalami kenaikan. 

Diketahui, kenaikan harga minyak dunia kini menembus angka US$ 105 per barrel akibat perang antara Rusia vs Ukraina. Pemerintah harus segera mengambil langkah dalam menyesuaikan harga Indonesian Crude Price (ICP) secara proporsional, termasuk di dalamnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Pengamat Ekonomi dan Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan, kenaikan harga minyak dunia saat ini sangat tidak menguntungkan bagi Indonesia, karena selama ini Indonesia merupakan negara pengimpor minyak.

menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya memantau perkembangan saja, tetapi juga harus mengantisipasi dan membuat proyeksi harga minyak yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan terkait harga BBM di dalam negeri.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melambung Tinggi, Pertamina Jamin Tak Pengaruhi Harga LPG 3 Kilogram

"Kalau pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga, Pertamina akan menjual BBM di bawah harga keekonomian, dan ini akan memberatkan APBN," kata Fahmi dari keterangan tertulis Rabu (2/3/2022).

Menurut Fahmy, kenaikan harga bisa dilakukan terlebih dulu untuk produk Pertamax Series yang konsumennya berada di kisaran angka 20 persen dari total konsumsi gasoline secara nasional, sehingga tidak akan terlalu mempengaruhi inflasi. Selain itu, saat ini juga merupakan momentum bagi pemerintah untuk menghapus Premium untuk mengurangi beban subsidi APBN.

"Saya rasa ini juga momentum bagi pemerintah untuk menghapus Premium, karena konsumsinya sekarang juga tinggal 5 persen. Itupun hanya di luar Jawa. Ini juga akan mengurangi beban subsidi APBN," ungkap Fahmi.

Terkait dengan harga Pertalite, Fahmy menilai, belum perlu dilakukan penyesuaian, mengingat konsumen Pertalite saat ini masih cukup besar, yang mencapai 70 persen. Jika harga Pertalite dinaikkan, maka hal ini akan berimbas pada inflasi dan daya beli masyarakat.

"Penyesuaian harga harus secepatnya dilakukan, karena eskalasi perang diperkirakan akan panjang, dan saya rasa harga minyak bisa terus meningkat," ujar Fahmy.

Baca Juga: Negosiasi Rusia dan ukraina Dikabarkan Gagal, Harga Minyak Dunia Makin Meroket

Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko menuturkan, masyarakat diharapkan tidak panik terkait dengan kenaikan harga minyak dunia pada saat ini. Menurutnya, stok bahan bakar minyak di Jawa Tengah masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait