facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Tercatat 844 Warga Masih Mengungsi Akibat Bencana Banjir di Banyumas, Tersebar di 7 Desa dan 2 Kecamatan

Ronald Seger Prabowo Selasa, 22 Maret 2022 | 14:28 WIB

Tercatat 844 Warga Masih Mengungsi Akibat Bencana Banjir di Banyumas, Tersebar di 7 Desa dan 2 Kecamatan
Warga menerabas banjir yang melanda wilayah Desa Gebangsari, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, Selasa (15/3/2022). [Suara.com/Anang Firmansyah]

Ratusan pengungsi tersebut tersebar di 12 pos pengungsian.

SuaraJawaTengah.id - Bupati Banyumas Achmad Husein mengatakan sebanyak 844 warga masih mengungsi akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Banyumas, sejak 15 Maret 2022.

Lebih lanjut, Bupati mengatakan ratusan pengungsi tersebut tersebar di 12 pos pengungsian yang berada di tujuh desa dari dua kecamatan.

"Jumlah tersebut berdasarkan data Pusdalops BPBD (Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Banyumas per 22 Maret 2022, pukul 07.00 WIB. Saat ini genangan air di sebagian wilayah sudah mulai surut," kata Achmad Husein dikutip dari ANTARA, Selasa (22/3/2022).

Dia memaparkan, Desa Plangkapan, Kecamatan Tambak, tercatat sebanyak 228 orang yang masih mengungsi di pos pengungsian yang berlokasi di SDN 1 Plangkapan, Madrasah Ibtidaiyah Plangkapan dan Masjid Plangkapan.

Baca Juga: Banjir Menerjang Pesanggaran Banyuwangi, 100 Rumah Terendam dan Jembatan Terputus

Selain itu, di Desa Gebangsari, Kecamatan Tambak, tercatat sebanyak 68 orang yang mengungsi di pos pengungsian balai desa dan PAUD Al Falah.

Di Desa Gumelar Kidul (Tambak) terdapat 27 orang yang mengungsi ke PAUD Teratai, sedangkan di Desa Karangpetir (Tambak) terdapat 90 orang yang mengungsi ke balai desa setempat dan mushalla.

Sementara di Kecamatan Sumpiuh tercatat sebanyak 25 warga Desa Selandaka yang masih mengungsi di Masjid Selandaka, 60 warga Desa Kuntili mengungsi ke Madrasah Ibtidaiyah Kuntili, serta 346 warga Desa Nusadadi yang mengungsi di Kantor Kecamatan Sumpiuh dan Kantor KPRI.

"Secara keseluruhan, wilayah terdampak banjir di Kabupaten Banyumas sebanyak 17 desa yang tersebar di Kecamatan Tambak, Sumpiuh, Kemranjen dan Wangon dengan jumlah warga yang terdampak mencapai 17.035 jiwa dari 5.437 keluarga," kata Bupati.

"Namun hingga saat ini, hanya ada 12 pos pengungsian di tujuh desa yang masih ada pengungsinya, sedangkan di delapan desa lainnya sudah tidak ada lagi warga yang mengungsi, dan di Wangon masih ada warga yang mengungsi ke rumah saudara atau tetangga," lanjut Bupati.

Baca Juga: Geger! Pawang Banjir Muncul di Kota Sangatta, Warganet: Diam Menjadi Dukun, Bergerak Mencari Makan

Achmad Husein mengatakan di Desa Pengadegan, Kecamatan Wangon, tercatat sebanyak 487 jiwa dari 144 keluarga terdampak banjir yang mengungsi ke rumah saudara atau tetangga yang tidak terdampak.

"Demikian pula di Desa Rawaheng, Kecamatan Wangon, ada 487 jiwa dari 114 keluarga yang mengungsi ke rumah saudara atau tetangga yang tidak terdampak banjir," katanya.

Menurut dia, kebutuhan makanan untuk korban banjir di seluruh wilayah dipasok dari dapur umum yang berlokasi di Kantor Kecamatan Tambak, Kantor Kecamatan Sumpiuh, Balai Desa Plangkapan, PAUD Al Falah Desa Gebangsari, Balai Desa Karangpetir, serta Banser dan Fatayat Desa Plangkapan.

Sementara di Desa Pengadegan dan Rawaheng, dapur umum dibuka di rumah warga desa setempat.

Terkait dengan stok logistik kebutuhan pokok di gudang posko, Bupati mengatakan berdasarkan data per Selasa (22/3), pukul 07.00 WIB, tersedia beras sebanyak 1,1 ton, minyak goreng 150 liter, mi instan 150 dus, air mineral 40 dus, dan obat-obatan ringan.

Menurut dia, bagi donatur yang ingin memberikan bantuan untuk korban bencana banjir dipersilakan menghubungi BPBD Kabupaten Banyumas.

"Terus terang saja, kebutuhan bantuan saat ini di antaranya berupa logistik kebutuhan pokok, perlengkapan bayi, popok lansia, perlengkapan kebersihan, serta perahu untuk evakuasi dan distribusi," katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga membutuhkan bantuan personel dengan spesifikasi klaster posko, klaster shelter atau penanganan pengungsi dan klaster pendampingan psikososial. 

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait