"Empat tahun lalu saat saya menjual koran di Kawasan Kota Lama Semarang ada wisatawan yang minta difotokan menggunakan kamera miliknya," jelasnya.
Lantaran Kaka tak paham dengan kamera besar, ia mengatakan tak bisa memotret. Namun pelancong tersebut mengajarkan Kaka agar bisa mengoperasikan kamera milik wisatawan tersebut.
"Ya awalnya asal-asalan saja, karena hanya diajari sebentar. Setelah saya potret dan melihat hasilnya, ia mengatakan saya harus bisa memotret karena hasil foto saya menurutnya bagus," paparnya.
Dari hal kecil itu, Kaka memberanikan diri untuk menjual jasa fotografi ke pengunjung di Kawasan Kota Lama Semarang.
Baca Juga:Istri Ganjar Pranowo Ngaku Pertama Kali Naik Bus Trans Jateng
"Kata-kata dari wisatawan itu membuat saya terus belajar fotografi, meski awalnya hanya pakai smartphone," jelasnya.
![Kaka Fajar Apriliansyah saat membidik dua wisatawan yang tengah berkunjung ke Kawasan Kota Lama Semarang, Jumat (29/07/22). [Suara.com/Anin Kartika]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/07/29/52857-fotografer-cilik.jpg)
Semakin belajar fotografi, Kaka semakin menikmati dunia visual tersebut, dan ia meninggalkan pekerjaan menjual koran. Ia juga menabung untuk membeli peralatan fotografi yang ia gunakan saat mejual jasanya.
"Karena hasil menjual jasa fotografi lebih besar, saya tidak menjual koran lagi dan fokus menjadi fotografer," tutur Kaka.
Tidak hanya menabung, dari hasil menjual jasa fotografi, Kaka juga menjadi penyokong biaya sekolah dua adiknya.
"Semenjak jadi fotografer saya membantu orang tua dan biaya sekolah dua adik saya," katanya.
Baca Juga:CEO PSIS Semarang Akui Mengincar Marc Klok Sejak Lama, Namun Menunggu Keputusan Persib Bandung
Fotografer cilik itu menjual hasil bidikannya Rp 3 ribu untuk satu fotonya. Tak jarang 30 foto dibeli langsung oleh para wisatawan.