SuaraJawaTengah.id - Tetangga korban pembunuhan satu keluarga di Dusun Prajenan, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, sangsi motif pembunuhan karena tersangka DD terbebani menanggung biaya hidup orang tua. Polisi masih terus menyelidiki kasus ini, termasuk mencari motif pembunuhan.
Tersangka DD (22 tahun) adalah anak kedua pasangan korban suami istri, Abas Ashar (58 tahun) dan Heri Riyani (54 tahun). Selain diduga membunuh kedua orang tuanya, DD juga diduga meracun kakaknya, Dea Khairunisa (25 tahun) hingga tewas.
Dalam pemeriksaan polisi, tersangka DD mengaku keberatan harus menanggung kebutuhan hidup keluarga. Tersangka mengaku juga dibebani membayar utang yang habis dipakai untuk berobat orang tuanya.
Kepala Desa Mertoyudan, Eko Sungkono mengaku kenal dekat dengan keluarga korban Abas Ashar. Eko tinggal satu rukun tetangga (RT) dengan keluarga Abas.
Baca Juga:Pembunuhan Satu Keluarga di Magelang, Tersangka Sakit Hati Jadi Tumpuan Beban Orangtua
Eko Sungkono sangsi jika Abas Ashar terlilit utang untuk biaya berobat. Abas baru 2 bulan pensiun sebagai pegawai Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
"Kalau itu (utang) kemungkinan anaknya. Ini orang tuanya malah mau bangun rumah. Sudah mulai membangun rumah tapi belum selesai. Informasi dari istri saya sama PKK itu. Rencana dia (Abas Ashar) mau membangun rumah," kata Kepala Desa Mertoyudan, Eko Sungkono saat ditemui di TKP, Gang Durian, Dusun Prajenan, Mertoyudan, Selasa (29/11/2022).
Di garasi rumah yang ditempati keluarga Abas Ashar terparkir 2 mobil dan 1 sepeda motor Yamaha Nmax. Rumah berlantai 2 itu besar dan terlihat terawat. "Ini kan rumah adiknya. Terus mau bangun rumah sendiri rencana di Dampit (Dusun Dampit, Mertoyudan)."
Eko Sungkono juga menyangsikan keterangan tersangka yang mengaku bekerja sebagai pegawai PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). "Ceritanya itu. Tapi kan kita nggak tahu persis. Apa betul di PT KAI apa nggak. Terus terang lingkungan sini kalau untuk masalah privasi masing-masing," ujar Eko Sungkono.
Keluarga Berada
Baca Juga:4 Ciri Minuman Beracun dalam Teh dan Kopi, Penyebab Keluarga di Magelang Tewas
Setahu Eko, setelah lulus SMA tersangka DD sempat mendaftar di Akademi Militer namun gagal. Sebelum tes Pantukhir (pemantauan terakhir) DD mengalami kecelakaan sehingga jari kakinya harus diamputasi.