"Terkait dengan cuaca ekstrem yang berpotensi di wilayah-wilayah tersebut, kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, dan angin kencang terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi," kata Teguh.
Disinggung mengenai bencana longsor yang terjadi di Kabupaten Banyumas, dia menduga hal itu dipicu oleh hujan sangat lebat yang terjadi pada hari Minggu (3/12) hingga Senin (4/12), pukul 07.00 WIB.
Menurut dia, hal itu diketahui berdasarkan data pemantauan curah hujan di sejumlah wilayah Banyumas, antara lain Danaraja sebesar 127 milimeter, Arcawinangun 126 milimeter, Rempoah (Baturraden) 113 milimeter, dan Rawalo 124 milimeter.
"Curah hujan berkisar 100-150 milimeter per hari termasuk kategori sangat lebat. Sementara untuk wilayah Banyumas lainnya masuk kategori hujan sedang (20-50 milimeter per hari) hingga lebat (50-100 milimeter per hari," katanya.
Baca Juga:Dulu Berasal dari Laut, Ini Kisah Pria Jawa Temukan Ikan Mujair Air Tawar 87 Tahun Silam
Bencana tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Banyumas pada hari Senin (4/12) dini hari, antara lain di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, yang mengakibatkan tiga korban luka-luka dan satu orang lainnya meninggal dunia setelah rumah mereka tertimpa material longsoran dari tebing.
Selain itu tanah longsor di Kabupaten Banyumas pada Senin (4/12) dini hari juga menutup jalur rel ganda lintas Purwokerto-Cirebon yakni di KM 340+100 yang berada di antara Stasiun Karanggandul dan Stasiun Karangsari. Akibatnya seluruh kereta api yang seharusnya melewati jalur itu dialihkan memutar melalui Bandung untuk KA dari arah Jakarta menuju Yogyakarta dan sebaliknya, sedangkan KA dari Jakarta menuju Solo memutar melalui Semarang.