![Gelandang PSIS Semarang, Septian David Maulana saat menghadapi PSBS Biak di laga pekan ketiga BRI Liga 1 2024/2025. [Dok. PSIS Semarang]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/08/23/89163-gelandang-psis-semarang-septian-david-maulana-saat-menghadapi-psbs-biak.jpg)
Setiap stadion memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi ukuran lapangan, kondisi rumput, hingga fasilitas pendukung. Adaptasi terhadap Stadion Moch Soebroto tentu membutuhkan waktu, dan hal ini sering kali menjadi kendala bagi tim yang sudah terbiasa bermain di Jatidiri.
Gilbert Agius, pelatih PSIS, pernah mengungkapkan kerinduannya untuk kembali ke Jatidiri, dengan menyebut atmosfer dan kenyamanan stadion tersebut sebagai salah satu faktor penting dalam performa tim. Adaptasi yang tidak optimal terhadap stadion baru sering kali membuat tim sulit mencapai permainan terbaik mereka.
4. Tekanan Mental sebagai Tim Musafir

Selain faktor teknis dan fisik, tekanan mental sebagai tim musafir juga menjadi aspek krusial. Pemain harus menghadapi tekanan lebih besar karena bermain di luar kandang dengan harapan tinggi dari suporter yang tetap menuntut hasil positif. Meski demikian, kondisi di lapangan sering kali tidak mendukung untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Baca Juga:Adi Satryo dapat Panggilan Timnas Indonesia, Bakal Berlaga di Kualifikasi Piala Dunia
Kendati demikian, klub berjuluk laskar mahesa jenar itu berharap agar mereka bisa segera pulang ke Stadion Jatidiri. Kembalinya PSIS ke rumah mereka diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperbaiki performa dan keluar dari status tim musafir yang mempersulit mereka.
Dengan evaluasi yang tepat, PSIS perlu segera mengatasi masalah ini dan bersiap menghadapi pertandingan selanjutnya dengan optimisme baru, meski masih harus bermain jauh dari Jatidiri untuk sementara waktu.