Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat

Konflik Amerika-Iran memicu kenaikan harga, yang berdampak pada UMKM di Semarang. Pelaku usaha terpaksa berakrobat, mulai dari memperkecil ukuran hingga menaikkan harga

Budi Arista Romadhoni
Senin, 13 April 2026 | 17:23 WIB
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Ilustrasi UMKM harus memutar otak di tengah Konflik Geopolitik yang membuat harga plastik meroket. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Konflik Amerika-Iran memicu gangguan rantai pasok global yang mengakibatkan lonjakan harga bahan baku industri di Kota Semarang.
  • Pelaku UMKM dan pedagang di Semarang mengalami kenaikan biaya produksi signifikan, terutama pada komoditas kedelai serta plastik.
  • Dampak ekonomi tersebut memaksa pelaku usaha memperkecil ukuran produk, menaikkan harga jual, hingga membatasi pembelian barang bagi pelanggan.

SuaraJawaTengah.id - Konflik Amerika-Israel dengan Iran ibarat jauh dari panggang api bagi Kota Semarang. Bahkan tak ada sirene, tak pula dentuman rudal yang terdengar dari wilayah ibu kota Jawa Tengah (Jateng) yang memecah ketenangan seperti yang kerap tersaji dari kawasan Timur Tengah.

Namun, jarak geografis itu tak serta-merta membuat dampaknya ikut menjauh. Ketegangan tiga negara tersebut malah menggoyang rantai ekonomi dunia. Dari jalur distribusi hingga harga komoditas global, efeknya merembes perlahan ke level paling bawah.

Konflik yang jauh dari warung maupun ruang produksi UMKM itu justru terasa lewat dampak tak langsung: kenaikan harga bahan baku. Minyak, plastik, dan berbagai kebutuhan lainnya tiba-tiba meroket tajam.

Akibatnya, pedagang atau pelaku UMKM di Kota Semarang terpaksa harus berakrobat untuk bertahan di tengah biaya produksi yang terus meningkat.

Baca Juga:BRI Gandeng Yakult Lady: Digitalisasi Transaksi UMKM dan Dukungan Kesejahteraan Melalui QRIS

Pengrajin Tahu Terhimpit

Perajin Tahu di Semarang merasa terbebani dampak perang dan konflik geopolitik. [Kontributor/IFN]
Perajin Tahu di Semarang merasa terbebani dampak perang dan konflik geopolitik. [Kontributor/IFN]

Salah satu pelaku UMKM yang terdampak gejolak geopolitik ialah pengrajin tahu. Apalagi bahan utama pembuatan tahu masih sangat bergantung pada kedelai impor.

Pengrajin tahu legendaris di Kecamatan Candisari, Joko Wiyatno mengaku harga kedelai terus merangkak naik tanpa kendali dalam tiga bulan terakhir. Kenaikannya pun terbilang tajam, hampir menyentuh 60 persen dibanding harga normal.

"Harga normal (kedelai) itu Rp7.000-8.000 per kilonya. Sekarang naik jadi Rp11.000, kenaikan harga ini udah tiga bulan terskhir. Saya tidak bisa menaikkan harga (jual) tahu sendiri. Harus serempak," ucap Joko saat ditemui Suara.com, Senin (13/4/2026).

Joko menduga kenaikan harga kedelai tersebut imbas dari gejolak geopolitik global. Kondisi itu membuatnya terpaksa berakrobat, salah satunya dengan mengurangi takaran dan memperkecil ukuran tahu agar usahanya tidak ditinggali pelanggan.

Baca Juga:Meski Likuiditas Berlimpah, Permintaan Kredit UMKM dan Konsumsi Masih Melemah

Masalah harga kedelai bukan satu-satunya yang membuat Joko berakrobat. Sebagian besar pengrajin tahu di Semarang juga dibikin pusing tujuh keliling oleh kenaikan harga bahan penunjang lain seperti minyak goreng, kayu bakar, hingga plastik kemasan. Dampaknya, biaya produksi semakin membengkak.

"Semua ikut naik, bukan cuma kedelai. Harga minyak goreng dari Rp16.000 sekarang naik jadi Rp20.500. Kayu bakar dan plastik juga naik," keluhnya.

Joko melanjutkan bahwa kenaikan harga plastik kemasan malah tergolong ekstream. Plastik bening disebut naik sampai 100 persen, sedangkan plastik kantong sekitar 25-30 persen.
Lonjakan biaya produksi itu memaksa Joko mengurangi jumlah produksi harian, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan omzet.

"Sebelum harga bahan baku naik, produksi tahu di tempat saya per harinya bisa mencapai satu ton. Sekarang hanya 600-700 kuintal. Setiap ada gejolak, pasti (harga kedelai) naik. Mau pakai kedelai lokal belum bisa diandalkan, kualitasnya lebih basah dan mudah berjamur," paparnya.

Penjual Jus Terpaksa Menaikan Harga

Ilustrasi kemasan plastik (Unsplash/@aninge)
Ilustrasi kemasan plastik (Unsplash/@aninge)

Jika Joko berakrobat dengan memperkecil ukuran tahu, maka penjual jus dan minuman segar di kawasan Pleburan, Semarang, memilih langkah berbeda: menaikkan harga jual. Pilihan tesebut menjadi jalan terakhir setelah harga cup dan plastik kemasan melonjak tajam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini