- Konflik Amerika-Iran memicu gangguan rantai pasok global yang mengakibatkan lonjakan harga bahan baku industri di Kota Semarang.
- Pelaku UMKM dan pedagang di Semarang mengalami kenaikan biaya produksi signifikan, terutama pada komoditas kedelai serta plastik.
- Dampak ekonomi tersebut memaksa pelaku usaha memperkecil ukuran produk, menaikkan harga jual, hingga membatasi pembelian barang bagi pelanggan.
Seorang karyawan kedai jus, Fauzi mengatakan harga berbagai varian jus sudah dinaikkan sejak sebelum Lebaran. Semua item naik Rp1.000 menyusul lonjakan harga cup dan plastik yang menjadi penopang utama usaha tersebut.
"Sebelum Lebaran, semua harga varian jus kami naikkan Rp1.000. Tapi sejauh ini belum ada dampak signifikan penurunan pembeli. Malah ada dari mereka yang bawa tumbler," ucap Fauzi.
Pedagang Plastik Kelimpungan
![Pedagang melayani pembeli plastik di Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (9/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/26100-kenaikan-harga-plastik-kantong-plastik-ilustrasi-plastik-pedagang-plastik.jpg)
Rupanya kenaikan harga plastik di Kota Semarang mulai terasa sejak awal Ramadan. Pemilik Toko Plastik 2TAB di Jalan Jolotundo, Kecamatan Gayamsari, NS Tuti bahkan harus menerapkan pembatasan pembelian demi menjaga ketersediaan stok.
Baca Juga:BRI Gandeng Yakult Lady: Digitalisasi Transaksi UMKM dan Dukungan Kesejahteraan Melalui QRIS
Di kiosnya, aturan baru diberlakukan: pembeli hanya diperbolehkan membeli maksimal tiga pack plastik. Kebijakan ini diambil karena lonjakan harga membuat barang cepat habis akibat pembelian dalam jumlah besar.
"Kalau orang beli itu biasanya bebas, tidak ada batasan. Mau beli lima sampai 12 pack dilayani, tapi sekarang saya batasi maksimal tiga. Karena harga naik terus hampir tiap hari," ungkap Tuti.
Dia menyebut kenaikan harga plastik terjadi fluktuatif sejak 9 Maret hingga 31 Maret 2026, dan tidak berhenti bahkan setelah Lebaran. Dalam periode tersebut, harga tercatat melonjak hingga sekitar 70 persen, lalu kembali naik sekitar 15 persen dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi itu membuat para pedagang berada dalam posisi sulit dan kelimpungan. Margin keuntungan kian menipis karena harga modal berubah cepat dan tak menentu.
"Sekarang itu seperti kejar-kejaran. Hari ini kulak Rp10.000, jual Rp12.000. Besok kulak sudah jadi Rp13.000. Mau tidak mau harga jual ikut naik lagi," resahnya.
Baca Juga:Meski Likuiditas Berlimpah, Permintaan Kredit UMKM dan Konsumsi Masih Melemah
Situasi tersebut ternyata sampai menimbulkan kesalahpahaman dengan pembeli. Tuti mengaku beberapa kali mendapat keluhan dari pelanggan hingga dimarahi yang mengira dirinya sengaja memainkan harga.
Tak hanya plastik, kenaikan juga terjadi pada berbagai bahan kemasan lain seperti styrofoam, mika, hingga kertas makanan. Bahkan, sejumlah jenis cup minuman melonjak tajam, dari sekitar Rp13.000 menjadi Rp24.000 per pack.
Pengusaha Tertekan Imbas Konflik Amerika-Iran
![Perang besar kembali mengancam setelah mantan pejabat keamanan Amerika Serikat mengungkap kemampuan rudal Iran yang disebut jauh lebih berbahaya dari perkiraan. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/26/23680-rudal-iran.jpg)
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng ikut mengeluhkan lonjakan harga plastik yang dipicu dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah. Bahkan bahan baku industri seperti polyester yang digunakan dalam sektor tekstil juga mulai mengalami kenaikan sekitar 8 persen.
Ketua Apindo Jateng, Frans Kongi, menyebut gejolak tersebut memberi tekanan ke hampir semua sektor industri. Kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung pada biaya logistik sekaligus bahan baku produksi.
"BBM itu krusial untuk industri. Sekarang biji plastik saja sudah naik sampai 100 persen. Karena ini turunan minyak, dampaknya memang sangat besar," ungkap Frans.