- Empat anggota keluarga asal Ambarawa ditemukan meninggal dunia di kawasan wisata Kledung, Temanggung, pada Jumat, 29 Mei.
- Polisi menduga penyebab kematian adalah keracunan makanan atau paparan gas beracun akibat kondisi tenda yang tertutup rapat.
- Tim forensik telah mengautopsi salah satu korban guna memastikan penyebab pasti kematian yang sedang dalam proses penyelidikan.
SuaraJawaTengah.id - Teka-teki kematian tragis satu keluarga beranggotakan empat orang di kawasan wisata Kledung, Kabupaten Temanggung, mulai menemui titik terang. Pihak kepolisian kini tengah membidik dua kemungkinan penyebab utama: petaka dari makanan yang dikonsumsi atau hirupan gas beracun di dalam tenda yang tertutup rapat.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, mengungkapkan bahwa kesimpulan awal dari tim dokter forensik langsung mengarah pada dua kecurigaan tersebut.
“Dugaan sementara ada dua, yakni keracunan makanan dan keracunan gas hasil pembakaran,” katanya, Jumat (29/5).
Tragedi ini menewaskan MHM (52), M (43), AEH (17), dan BAH (21). Satu keluarga tersebut diketahui merupakan warga Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.
Baca Juga:Pelindo Petikemas Setor Rp1,73 Triliun, Dukung Fiskal Nasional
Autopsi Fokus pada Korban Paling Sehat
Untuk mengurai tabir kematian ini, tim forensik telah merampungkan proses autopsi pada Kamis siang. Namun, atas persetujuan pihak keluarga, bedah mayat menyeluruh hanya diberlakukan kepada satu jenazah, yakni AEH. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan medis yang kuat.
“Korban AEH dipilih karena dianggap paling sehat dan merupakan seorang atlet,” ujarnya.
Polisi kini harus berkejaran dengan waktu untuk memastikan penyebab pasti kematian. Hasil komprehensif dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan serta Direktorat Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah diprediksi baru akan keluar dalam waktu dua hingga lima hari ke depan.
Kondisi Tenda Terisolasi Rapat
Misteri kematian ini kian pekat setelah polisi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Petugas menemukan fakta bahwa saat kejadian, ruang gerak udara di dalam tenda sangat minim.
Kompol Komang menjelaskan, kompor gas portabel sebenarnya diletakkan di luar area tidur, tepatnya di teras pintu masuk. Namun, kondisi sekeliling tenda justru sengaja ditutup penuh dari dalam.
Baca Juga:Di Lembaga ini Warga Miskin Jateng Dilatih Gratis, Diberi Makan, Lalu Disalurkan ke Tempat Kerja
“Peralatan memasak ditemukan dalam keadaan tidak menyala,” kata Komang.
Selain kompor portabel, polisi juga mendapati sebuah tungku tanah liat yang digunakan untuk membakar briket. Saat ditemukan, pintu tenda beserta ventilasi di bagian kiri dan kanan berada dalam posisi tertutup rapat. Anehnya, polisi tidak menemukan tanda-tanda kepanikan fisik di dalam tenda.
“Hasil pemeriksaan di lokasi tidak ditemukan bekas muntahan atau tanda mencurigakan lainnya. Di dalam tenda hanya terdapat dua kasur dan kantong tidur,” ujarnya.
Dari lokasi kejadian, korps baju cokelat mengamankan sejumlah barang bukti penting, termasuk lima unit ponsel, satu unit mobil, kamera, alat memasak, serta sisa bahan makanan seperti daging, sosis, sayuran, dan nasi putih. Demi mendalami unsur kelalaian atau fakta baru lainnya, sejauh ini penyidik telah memeriksa empat orang saksi dari pihak pengelola tempat wisata.