- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah mendesak pemerintah daerah mengoptimalkan embung dan waduk demi menjaga ketahanan pangan nasional.
- Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi kekeringan panjang pada puncak musim kemarau antara Juli hingga September 2026.
- Pemerintah daerah diminta mengelola tata kelola air secara ketat agar target produksi padi tahun 2026 tetap tercapai.
SuaraJawaTengah.id - Keberadaan embung maupun waduk di berbagai daerah di Jawa Tengah harus dioptimalkan dalam menghadapi berbagai ancaman kekeringan di musim kemarau.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, upaya ini perlu dilakukan untuk memastikan provinsi ini tetap menjadi salah satu sentra pangan nasional sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.
“Ketersediaan air menjadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat, terutama di daerah yang mengandalkan sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi,” ungkapnya.
Atas dasar itu, kata Kakung, sapaan akrab Sarif, pihaknya meminta pemerintah provinsi atau daerah untuk segera mengambil langkah taktis dengan mengoptimalkan fungsi embung di seluruh daerah guna menjaga ketersediaan air.
Baca Juga:Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Pemerintah Perluas Akses Produk Lokal ke Pasar Global
“Apalagi, target produksi padi Jateng pada 2026 ini cukup besar yakni mencapai 10,55 juta ton Gabah Kering Giling,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan berlangsung pada bulan Juli–September 2026 dengan durasi panjang yang berpotensi berlanjut hingga awal tahun 2027.
Selain embung, kata Kakung, Provinsi Jateng juga memiliki infrastruktur penyangga berupa sekitar 38 waduk yang dikelola pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

“Meski demikian, optimalisasi embung maupun waduk yang ada harus dilakukan melalui manajemen tata kelola air yang ketat,” terangnya.
Menurut Kakung, pelepasan air dari embung atau waduk harus diatur berbasis data berdasarkan ketersediaan tampungan aktual.
Baca Juga:Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Pariwisata Berorientasi Nilai Ekonomi, Bukan Kuantitas Pengunjung
“Hal ini bertujuan agar cadangan air tidak cepat habis dan cukup memenuhi kebutuhan hingga musim kemarau berakhir,” jelas legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Kakung berharap, melalui pengelolaan sumber air yang optimal, hasil panen komoditas pangan, hortikultura, maupun perkebunan tetap terjaga.
“Produktivitas petani tidak menurun meski menghadapi musim kemarau,” tegas Kakung.
Kakung pun mendorong pemerintah daerah untuk bergerak aktif mendata wilayah-wilayah yang masih membutuhkan pasokan air, kemudian ke depan merencanakan pembangunan embung baru secara strategis.
“Karena keberadaan embung tidak hanya bermanfaat pada satu musim, tetapi mampu memberikan fungsi penting baik saat musim hujan maupun musim kemarau,” tandasnya.